Sidrap, Katasulsel.com — Jarang ada akademisi yang mau bicara lugas soal kinerja pemerintah daerah. Biasanya normatif. Aman. Tapi kali ini berbeda.
Rektor Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, memilih menyampaikan penilaian terbuka atas capaian Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Menurutnya, kinerja Pemkab Sidrap dalam setahun terakhir menunjukkan tren yang positif dan terukur. Bukan sekadar klaim seremonial.
Ia merujuk pada hasil survei independen yang mencatat tingkat kepuasan publik mencapai 87,7 persen.
“Angka ini dalam perspektif akademik tergolong sangat tinggi untuk pemerintahan daerah. Itu berarti ada tingkat penerimaan dan kepercayaan publik yang kuat,” tegas Prof Jamaluddin.
Bagi sang profesor, angka tersebut bukan hiasan statistik. Ia menyebutnya sebagai refleksi pengalaman riil masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.
Jika warga merasa jalan lebih baik, irigasi berfungsi, layanan administrasi lebih cepat, dan kebutuhan dasar lebih terjangkau — maka itulah ukuran sesungguhnya.
Beberapa sektor yang ia nilai mengalami kemajuan signifikan antara lain perbaikan infrastruktur jalan kabupaten, penguatan jaringan irigasi pertanian, perluasan akses air bersih, serta upaya pembenahan birokrasi yang mulai mengarah pada sistem layanan yang lebih responsif.
Namun, pujian itu bukan tanpa catatan. Prof Jamaluddin mengingatkan bahwa kepuasan publik bukan garis finis.
Justru itu modal sosial yang harus dijaga. Tantangan ke depan, katanya, adalah menjaga konsistensi kinerja dan memastikan pemerataan manfaat pembangunan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.
“Kepercayaan publik itu mahal. Sekali turun, sulit naik lagi. Karena itu konsistensi dan keberlanjutan program menjadi kunci,” ujarnya.
Di tengah dinamika politik lokal yang selalu penuh warna, pengakuan dari kalangan akademisi ini menjadi sinyal penting: bahwa kerja pemerintahan bisa dinilai objektif, selama ada data dan dampak nyata di lapangan.
Sidrap, setidaknya untuk saat ini, mendapat catatan positif dari kampus. Tinggal bagaimana catatan itu dipertahankan — atau justru diuji oleh waktu. (*)



Tinggalkan Balasan