📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Tempat eks napiter berinteraksi dengan masyarakat.

Sekitar 80 eks napiter dibina. Mereka belajar jual kopi, bikin kue tradisional, servis handphone, bengkel, hingga potong ayam. Sederhana. Tapi bermakna.

Radikalisme tak bisa dilawan hanya dengan senjata. Ia harus dipatahkan lewat dapur, warung, dan meja makan.

Pertengahan Maret 2026 nanti, Suryadi bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga mereka akan terlibat sebagai relawan SPPG Polri.

Mereka akan membantu penyediaan makanan bergizi bagi sekitar 3.000 siswa sekolah. Program ini mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Dulu merakit bom. Kini menyiapkan nasi kotak.

Kontras yang nyaris tak masuk akal.

Minta Maaf dari Pintu ke Pintu

Masa bebas bersyaratnya berakhir 9 Maret 2026. Setelah itu, ia berencana touring keliling Sulawesi Selatan. Mendatangi keluarga murid-murid yang dulu ia rekrut.

Untuk meminta maaf.

“Saya menyesali seluruh tindakan saya,” katanya.
Tak banyak eks kombatan yang berani mengambil langkah seberani itu.

Catatan Pentingnya adalah;

Apakah ancaman terorisme di Sulsel hilang?

Tidak.

Suryadi sendiri menyebut Sulsel masih menjadi titik rawan. Jaringan bisa mati suri, tapi ideologi bisa beranak-pinak di ruang sunyi.

Namun kisah ini memberi satu pesan: deradikalisasi bukan jargon. Ia kerja panjang. Sunyi. Tak viral. Tapi nyata.