Enrekang, katasulsel.com — Harga bawang merah di Kabupaten Enrekang, Sulsel, di tingkat petani naik drastis.

Semula dengan harga Rp20 ribu–Rp28 ribu per kilogram, kini menembus Rp30 ribu–Rp35 ribu. Penyebabnya? Hama ulat yang menyerang tanaman bawang, membuat panen merosot tajam.

Petani tersenyum tipis. Bahagia karena harga naik, tapi panen sedikit membuat hati tetap waswas.

Di Enrekang, Ahmad Fauzi, petani bawang, berkata jujur, “Alhamdulillah harga naik, tapi ulat bikin bawang banyak yang rusak. Untung sedikit, rugi tetap ada.”

Advertisement

Hama kecil ini, terlihat remeh, tapi efeknya besar. Daun berlubang, batang lemah, umbi gagal tumbuh maksimal. Hasil panen menipis, membuat pasokan bawang merah di pasar berkurang, otomatis harga melonjak.

Di Sidrap, kondisi serupa terjadi. Petani tak hanya mengandalkan keberuntungan, tapi juga kewaspadaan ekstra. Mereka harus memantau ulat, menyemprot tanaman, dan berdoa agar panen berikutnya tak kalah oleh hama kecil ini.

Kenaikan harga ini jadi pedang bermata dua. Konsumen merogoh kocek lebih dalam, pedagang tersenyum tipis, petani lega tapi tetap khawatir. Sebuah ironi: harga tinggi tapi panen rendah.

Ahmad menambahkan, “Ini bikin hati campur aduk, senang karena harga naik, tapi hati tetap deg-degan. Kalau ulat datang lagi, siap-siap gigit jari.”

Advertisement

Hama ulat memang kecil, tapi efeknya nyata. Dari Enrekang hingga Sidrap, bawang merah jadi bukti bahwa alam, hama, dan manusia punya peran besar di meja makan. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.