Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
📄 542 Artikel

Takalar, katasulsel.com — Masalah sulitnya memperoleh BBM bersubsidi yang berbulan-bulan membelit para petani di Kabupaten Takalar kini mulai menunjukkan tanda perbaikan.

Akses energi untuk alat pertanian—mulai dari pompa air, traktor roda dua, hingga mesin pertanian lain—berangsur normal, berkat penerapan skema baru berbasis barcode.

Kepala Dinas Pertanian Takalar, Parawangsa, belum lama ini, menyampaikan bahwa solusi ini lahir dari koordinasi langsung dengan BPH Migas di Jakarta.

Pemerintah pusat merespons cepat keluhan petani yang selama ini sulit mendapatkan solar maupun pertalite bersubsidi.

“Sekarang petani sudah bisa membeli solar bersubsidi, dengan syarat menunjukkan surat keterangan kepemilikan alat pertanian,” ujar Parawangsa.

Surat keterangan ini menjadi syarat penerbitan barcode oleh Dinas Pertanian.

Barcode tersebut kemudian digunakan sebagai akses pembelian BBM di SPBU terdekat, sesuai domisili petani. Sistem ini memastikan BBM hanya sampai pada mereka yang benar-benar membutuhkan, tidak lagi bersifat umum atau rawan disalahgunakan.

Skema ini langsung dirasakan manfaatnya. Petani tidak lagi harus antre berjam-jam, bahkan kadang pulang dengan tangan kosong.

Dengan barcode, proses pembelian lebih terukur, tercatat, dan tepat sasaran. Petani pun bisa fokus ke musim tanam dan panen, tanpa khawatir energi operasional tersendat.

Menurut Parawangsa, kebijakan ini bukan sekadar administrasi, tapi strategi nyata meningkatkan produktivitas pertanian. Ketersediaan BBM yang stabil dianggap krusial bagi keberlanjutan kegiatan pertanian, khususnya di daerah yang tergantung pada mesin berbahan bakar.

“Kalau BBM lancar, aktivitas pertanian berjalan tanpa hambatan. Ini angin segar bagi petani Takalar,” pungkas Parawangsa.

Analisis ringan, skema barcode ini juga bisa menjadi model distribusi energi tertib bagi daerah lain.

Dengan data yang tercatat rapi, pemerintah dapat meminimalisir penyalahgunaan, memastikan pasokan tepat sasaran, dan sekaligus mempermudah pengawasan.

Bagi warga Takalar, terutama petani, sistem ini ibarat “jalan tol BBM”: lebih cepat, tertib, dan terukur. Antrean berkurang, produksi tetap jalan, dan musim tanam lebih terjamin.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.