Data ini menegaskan bahwa dari sisi pengawasan lalu lintas udara, prosedur telah berjalan. Yang diuji berikutnya adalah integrasi sistem darat–udara dalam operasi penyelamatan.

Di dalam pesawat terdapat 11 orang—8 kru dan 3 penumpang. Angka ini kecil secara statistik, tetapi besar secara makna. Setiap menit keterlambatan evakuasi adalah pertaruhan antara keselamatan, cuaca, kondisi fisik korban, dan medan.

Respons Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar patut dicatat. Sebanyak 15 personel rescue, kendaraan taktis, serta drone pemantau udara telah dikerahkan.

Leang-Leang ditetapkan sebagai start area, menandai operasi SAR yang mengandalkan kolaborasi lintas instansi dan kecermatan taktis, bukan sekadar kecepatan.

Bagi kami di redaksi, peristiwa ini menyisakan pertanyaan yang lebih luas dan mendasar:
apakah peta risiko penerbangan nasional sudah sepenuhnya memperhitungkan karakter geografis ekstrem seperti Sulawesi Selatan? Dan sejauh mana skenario pendaratan darurat di wilayah karst menjadi bagian dari latihan dan standar keselamatan penerbangan regional?

Bersambung….