Makassar, katasulsel.com — Bukan soal seremoni.
Bukan sekadar naik panggung.
Yang dibawa pulang Kabupaten Pinrang dari malam itu adalah satu hal yang jauh lebih konkret: posisi di level nasional.
Peringkat 18.
Di tengah ratusan kabupaten/kota di Indonesia.
Ahad, 29 Maret 2026.
Bupati Pinrang, A. Irwan Hamid, menerima penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
Basisnya jelas: Adipura.
Penghargaan yang tidak diberikan sembarangan.
Karena indikatornya bukan opini—tapi ukur.
Adipura itu soal angka:
Volume sampah terkelola
Persentase ruang terbuka hijau
Sistem pengelolaan TPA
Kebersihan kawasan kota
Partisipasi masyarakat
Semua dihitung. Semua dinilai.
Dan Pinrang masuk dalam kategori: Kabupaten Menuju Bersih.
Yang paling “keras” berbicara justru satu angka ini:
18 nasional.
Bukan 50.
Bukan 100.
Tapi 18 besar.
Artinya, Pinrang masuk papan atas dalam urusan lingkungan hidup.
Kalau ditarik lebih jauh, angka ini bukan sekadar ranking.
Ini refleksi:
Seberapa efektif pengelolaan sampah
Seberapa konsisten perilaku masyarakat
Seberapa kuat kebijakan daerah
Karena lingkungan tidak bisa “direkayasa” dalam semalam.
Ini kerja jangka panjang.
Tidak ada nominal uang yang disebut seperti daerah lain.
Tidak ada Rp35 juta.
Tidak ada Rp150 juta.
Tapi justru di situ letak nilainya.
Karena Adipura adalah “mata uang reputasi”.
Nilainya tidak cair hari ini—
tapi berdampak panjang:
Daya tarik investasi meningkat
Kualitas hidup naik
Beban kesehatan bisa ditekan
Bupati Irwan menyebut ini bukan sekadar prestasi.
Normatif.
Tapi kalau ditarik ke angka, logikanya sederhana:
Lingkungan bersih = biaya kesehatan turun
Kota tertata = produktivitas naik
Sampah terkelola = ekonomi sirkular hidup
Yang menarik, capaian ini tidak berdiri sendiri.
Ada “benang merah” dengan kebijakan pusat.
Arahan Presiden, Prabowo Subianto, menempatkan lingkungan sebagai isu strategis.
Dan Pinrang tampaknya tidak sekadar mengikuti—
tapi sudah berada di jalur.
Namun seperti biasa, angka juga punya sisi lain.
Peringkat 18 itu tinggi.
Tapi sekaligus jadi tekanan.
Karena setelah masuk 20 besar, ekspektasi berubah:
Bisa naik ke 10 besar?
Bisa tembus elite nasional?
Atau justru stagnan?
Di titik ini, tantangannya bukan lagi meraih—
tapi mempertahankan dan meningkatkan.
Karena menjaga konsistensi jauh lebih sulit daripada mengejar capaian awal.
Satu hal yang pasti—
Pinrang tidak sedang bicara janji.
Mereka sudah punya angka.
Dan di era sekarang, angka seperti ini lebih “mahal” dari sekadar klaim.
Peringkat 18 bukan akhir.
Tapi tiket masuk ke level kompetisi yang lebih keras. (*)


