📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Mamuju, Katasulsel.com – Selasa sore, 3 Februari 2026, suasana rumah kebun di Desa Pokkang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, sempat dipenuhi tawa dan nyanyian. MF, seorang polisi muda berusia 25 tahun, bersama dua temannya, Awal dan Khaerul, menikmati sore itu untuk melepas penat dari rutinitas kerja.

Namun, malam itu berubah menjadi tragedi. Khaerul dipanggil istrinya pulang pukul 23.00 Wita, meninggalkan MF dan Awal di teras rumah kebun. Mereka masih terus bernyanyi hingga larut, sampai akhirnya MF meminta izin masuk ke kamar, meninggalkan temannya di teras. Awal pun tertidur di luar, tak tahu nasib temannya.

Pagi berikutnya, sekitar pukul 06.00 Wita, Awal terbangun. Ia memanggil MF beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Rasa penasaran berubah menjadi kepanikan saat ia memeriksa kamar—dan menemukan sahabatnya meninggal tergantung.

“Awal panik, langsung lari ke rumah korban dan memberi tahu keluarga. Orang tua korban segera menuju rumah kebun dan mengevakuasi jenazah MF ke rumah duka,” ungkap Iptu Herman Basir, Kasi Humas Polresta Mamuju, Rabu (4/2/2026).

Suasana duka menyelimuti rumah duka. Orang tua MF, dalam kepedihan dan panik, tanpa menunggu koordinasi polisi, menggendong jenazah putranya dan membawanya pulang, sebelum akhirnya pihak kepolisian datang untuk menindaklanjuti.

Sejauh ini, polisi telah memeriksa enam saksi untuk mengungkap kronologi dan motif di balik peristiwa tragis ini. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apa yang membuat MF memilih mengakhiri hidupnya di rumah kebun, jauh dari keramaian kota?

Tragedi ini meninggalkan rasa kehilangan mendalam bagi keluarga, teman, dan rekan sejawatnya di kepolisian. Hari-hari yang dimulai dengan tawa kini menjadi duka yang membekas, mengingatkan bahwa di balik seragam dan tugas, seorang polisi juga manusia dengan beban dan perasaan.(*)