📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppWajo, katasulsel.com — Tidak semua kebijakan terasa langsung dampaknya. Namun, perbaikan jalan provinsi di poros Tanasitolo–Maniangpajo menjadi pengecualian. Jalan yang selama bertahun-tahun identik dengan kubangan, debu, dan keluhan kini berubah wajah. Diratakan, diperkeras, dan pada beberapa titik bahkan telah berlapis aspal.
Perubahan itu tidak sekadar fisik. Ia menyentuh psikologi warga.
Pantauan di lapangan menunjukkan alat berat telah menyelesaikan tahap pengerasan badan jalan. Permukaan yang sebelumnya rusak kini lebih rata dan layak dilalui.
Di sejumlah segmen strategis, pengaspalan sudah mulai tampak—menjadi penanda bahwa pekerjaan tidak berhenti pada tambal sulam.
Bagi warga, ini bukan proyek biasa. Ini jawaban.
“Sudah lama kami menunggu. Sekarang jalannya rata, mobil tidak lagi tersendat. Kami sangat bersyukur,” ujar Rahman, warga Tanasitolo, saat ditemui di pinggir jalan yang baru saja diratakan.
Apresiasi mengalir tidak hanya kepada pemerintah provinsi, tetapi juga kepada pemerintah kabupaten yang dinilai aktif mengawal komunikasi dan kebutuhan daerah.
Nama Gubernur Sulawesi Selatan Andi Amran Sulaiman dan Bupati Wajo Andi Rosman disebut berulang dalam percakapan warga—bukan dalam nada politis, melainkan dalam bahasa terima kasih.
“Terima kasih kepada Pak Gubernur Andi Amran Sulaiman. Jalan ini urat nadi kami. Sekarang sudah mulai terasa manfaatnya,” kata Nurhayati, pedagang kecil di Anabanua, Maniangpajo.
“Dan tentu juga ke Pak Bupati Andi Rosman yang terus memperjuangkan Wajo,” tambahnya.
Perbaikan jalan ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar, waktu tempuh berkurang, dan biaya perawatan kendaraan menurun. Hal-hal kecil yang selama ini menjadi beban, kini mulai terangkat.
Seorang pengendara ojek, Basri, menyebut perubahan ini sebagai “rezeki jalanan”.
“Dulu cepat rusak motor. Sekarang lebih aman, penumpang juga senang. Alhamdulillah,” ujarnya.
Di tengah seringnya publik disuguhi proyek infrastruktur yang berhenti di baliho dan spanduk, poros Tanasitolo–Maniangpajo menghadirkan cerita lain: pekerjaan yang benar-benar dikerjakan.
Aspal mungkin belum menutup seluruh ruas. Namun bagi warga, arah kebijakan sudah jelas. Negara hadir, pemerintah bekerja, dan jalan—seperti harapan—akhirnya diluruskan. (*)






Tinggalkan Balasan