📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppSidrap, katasulsel.com — Musrenbang sering dianggap rutinitas. Datang, duduk, bicara, foto, lalu pulang. Tapi Kamis (29/1/2026) di Aula Saromase, Watang Pulu, ada sesuatu yang berbeda. Aspirasi warga tidak berhenti sebagai catatan. Ia diperlakukan sebagai bahan baku kebijakan.
Ratusan usulan muncul. Jalan. Irigasi. Lampu jalan. Drainase. Jembatan. Layanan kesehatan. Hal-hal yang mungkin terdengar biasa, tapi justru di situlah denyut kehidupan warga berada. Dari situ pula negara diuji: apakah mendengar, atau sekadar mencatat.
Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, memilih menjelaskan prosesnya secara terbuka. Tidak dengan jargon, tapi dengan alur yang gamblang. Dari Musrenbang kecamatan. Diramu di kabupaten. Dibahas bersama DPRD. Masuk KUA-PPAS. Ditetapkan dalam RAPBD dan APBD. Dilaksanakan. Dipertanggungjawabkan. Baru kemudian dinilai manfaatnya oleh masyarakat.
Ia seolah ingin mengatakan: pembangunan bukan sulap. Ada tahapan. Ada hitungan. Ada akuntabilitas.
Mayoritas aspirasi warga Watang Pulu, kata Syaharuddin, memang soal infrastruktur dasar. Itu wajar. Jalan menentukan akses. Irigasi menentukan panen. Lampu jalan menentukan rasa aman. Tapi yang menarik, Musrenbang ini tidak berhenti di beton dan aspal.
Ada juga pembicaraan soal pendapatan warga. Soal petani. Soal harga. Di sinilah angka-angka mulai bicara.
Harga jagung, yang sebelumnya bertahan di kisaran Rp3.500 per kilogram, kini bergerak naik ke Rp5.500 hingga Rp6.000. Dampaknya tidak kecil. Pendapatan petani naik. Nilai produksi jagung Sidrap melonjak dari sekitar Rp900 miliar menjadi hampir Rp2 triliun.
Angka-angka itu tidak lahir tiba-tiba. Syaharuddin menyebutnya sebagai buah dari 14 program unggulan daerah. Mulai dari pengawalan harga gabah dan jagung, ketersediaan pupuk, hingga jaminan kesehatan melalui BPJS. Program yang tidak selalu ramai di media, tapi terasa di dapur warga.
Beberapa usulan konkret pun sudah diberi sinyal realisasi. Infrastruktur di Lawawoi, Arawa, Uluale, dan sejumlah titik lain disebut akan mulai dikerjakan tahun ini. Tidak semua. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa Musrenbang bukan sekadar forum curhat.
Bagi Syaharuddin, perencanaan harus bertahap dan terukur. Terutama di sektor yang menyentuh hajat hidup orang banyak: pertanian, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Ia juga mengaitkan itu dengan gerakan sosial yang sedang didorong pemerintah daerah: Sidrap Bersih, Sidrap Bercahaya, Sidrap Berkah, Sidrap Aman dan Religius, hingga Sidrap Maju dan Sejahtera.
Sementara itu, Kepala Bapperida Sidrap, Herwin, memberi angka yang memperjelas skala aspirasi. Dari 10 desa dan kelurahan di Watang Pulu, terkumpul 171 usulan. Semuanya sudah masuk sistem perencanaan pemerintah daerah. Artinya, tidak berhenti di aula. Tapi naik kelas, hingga ke sistem pusat.
Musrenbang Watang Pulu hari itu menunjukkan satu hal penting: pembangunan yang baik bukan soal janji besar, tapi soal kemampuan menerjemahkan suara warga menjadi kebijakan yang bisa dikerjakan. Pelan, bertahap, tapi nyata.
Dan di situlah menariknya.(*)






Tinggalkan Balasan