📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppPantai Raha kini aman, sawah menanti air, dan warga Muna tersenyum. Proyek pengamanan pantai dan bendungan mengubah kota perlahan—tapi nyata.
Laporan: Edy Basri
Pagi itu, saya berdiri di bibir Pantai Raha. Ombak menyapa lembut, tidak lagi liar seperti dulu. Ia patah di tembok beton panjang yang kini membentang 1,6 kilometer—tegak, kokoh, dan elegan. Tembok itu bukan sekadar beton, bukan sekadar batas fisik. Ia adalah garis hidup kota. Garis yang memberi warga rasa aman, ketenangan, dan harapan.
Di sekeliling saya, pasir masih basah karena air surut malam sebelumnya. Bau asin laut bercampur dengan aroma rumput liar yang tumbuh di pinggir pantai. Angin sepoi-sepoi menampar wajah, membawa percikan garam, dan suara burung camar yang berteriak riang. Dari kejauhan, perahu nelayan terlihat bergoyang ringan, menunggu hari yang cerah untuk melaut.
“Ini game changer,” kata Tayeb, tokoh muda Muna, sambil menunjuk pantai. Matanya bersinar. “Bukan cuma soal beton. Ini soal rasa aman, soal wajah kota yang berubah. Pantai sekarang hidup.”
Saya menoleh. Memang benar. Pantai ini bukan lagi zona waswas. Jalan utama kota, Masjid Agung Raha, rumah-rumah warga—dulu terancam gelombang dan rob—sekarang aman. Anak-anak berlarian di pasir basah, orang dewasa jogging, ada yang duduk di tepi tembok, menikmati angin dan suara laut. Bahkan beberapa muda-mudi tampak asyik nongkrong, selfie, dan bercanda.
Proyek pengamanan Pantai Muna ini digarap PT Pinar Jaya Perkasa dengan dukungan Kementerian PUPR dan BWS Sulawesi IV Kendari. Anggarannya Rp28 miliar dari APBN—kelihatan nyata, bukan sekadar angka di dokumen. Di Disway, proyek seperti ini disebut APBN yang kelihatan. Tidak abstrak. Tidak cuma di slide presentasi atau laporan rapat.

Saya berjalan menyusuri tembok beton, menapak di lantai yang masih hangat tersiram matahari pagi. Setiap langkah membuat pasir di bawah kaki berdecit halus. Seorang warga tua, Pak Arif, duduk di bangku kayu dekat pantai sambil mengamati ombak.
“Dulu takut tiap kali pasang,” katanya pelan. “Sekarang? Aman. Bisa duduk santai, ngobrol sama cucu tanpa khawatir air naik.”
Saya menatapnya. Senyum Pak Arif seperti melukiskan seluruh perubahan yang terjadi: nyata, sederhana, tapi mengena.
Di balik semua ini, ada tangan politik. Ridwan Bae, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, disebut menjadi pintu masuk proyek Kementerian PUPR ke Muna. Bersama Bupati Muna, Bachrun Labuta, mereka turun langsung meninjau lokasi. Mereka bukan sekadar hadir untuk foto atau seremoni. Mereka melihat langsung kondisi lapangan, menghitung risiko abrasi, berdialog dengan warga, bahkan menanyakan ke pekerja: “Bagaimana progresnya, aman tidak?”
Ridwan Bae menepuk bahu seorang pekerja. “Bagus. Beton rapi, anggaran tepat sasaran. Ini yang namanya APBN bisa langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Bupati Muna, Bachrun Labuta, ikut tersenyum. “Pantai ini simbol perubahan. Warga bisa merasa aman, anak-anak bisa bermain, dan kota mulai punya wajah baru.”
Saya melihat ke arah ombak. Gelombang kecil menabrak tembok beton, tapi tidak ada lagi rasa takut. Hanya ketenangan yang terasa.
Bersambung…






Tinggalkan Balasan