📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Pantai yang dulu rawan kini menjadi ruang publik yang hidup. Sore hari, warga mulai berdatangan. Anak-anak bermain layang-layang, pasangan muda berfoto, pejalan kaki melintasi tembok panjang sambil berlari kecil. Aroma gorengan dan kopi pedagang kaki lima mulai tercium. Suara tawa bercampur debur ombak.
Seorang ibu muda, Fitri, duduk di pasir sambil mengawasi anaknya. “Dulu takut kalau anak-anak bermain di sini.

Sekarang? Bisa santai. Pantai hidup, nyaman. Bahkan keluarga bisa piknik di sini,” katanya sambil tersenyum.

Seorang pemuda lain, Hendra, berlari di tepi pantai. “Ini bikin kota kita terlihat lebih modern, tapi tetap ramah. Orang bisa sehat, jalan-jalan, santai. Pantai bukan lagi zona waswas, tapi zona hidup!”

Tayeb menambahkan: “Ini bukan cuma soal beton. Ini soal wajah kota. Warga bahagia, itu indikator sukses proyek. Dan saya lihat, mereka bahagia.”

Namun, cerita Muna tidak berhenti di pantai. Beberapa kilometer ke pedalaman, air sedang disiapkan untuk mengaliri sawah-sawah. Bendungan Laiba, di Kecamatan Parigi, telah tuntas. Sunyi, tidak ada potongan pita atau spanduk besar. Tapi dampaknya bisa panjang.

Saya menginjak tanah basah di sekitar bendungan. Aroma tanah campur air terasa kuat. Ikan kecil melompat di genangan air sementara burung bangau mencari makan. Petani mulai berdatangan, membawa cangkul, menatap air yang menggenang di bendungan.

“Ini simbol kepastian,” kata Tayeb. “Petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hujan. Musim tanam bisa dihitung. Risiko gagal panen ditekan.”

Rahmat, Humas BWS Sulawesi IV Kendari, menegaskan: “Proyek berjalan sesuai aturan. Bersih dari isu yang tidak berdasar. Fakta di lapangan jelas: pantai ramai hingga malam, sawah menunggu aliran air, wajah kota berganti. Itu yang paling penting.”

Air dari bendungan Laiba akan mengalir ke Kolasa, Labulubulu, dan sekitarnya. Saya mengikuti aliran sungai kecil dari bendungan. Pepohonan hijau menari ditiup angin, sawah mulai tampak bergairah.
Petani mulai menyiapkan bibit padi.
Pak Amir, petani lokal, tersenyum. “Dulu musim tanam harus berharap hujan. Sekarang? Bisa direncanakan. Air datang pasti. Panen lebih aman. Hidup lebih tenang.”

Seorang ibu, Ningsih, menambahkan sambil membawa keranjang kecil berisi sayuran: “Bendungan ini bukan simbol megah, tapi simbol kepastian. Ini yang kita tunggu-tunggu.”

Saya duduk di pinggir sawah. Matahari mulai naik. Suara burung, gemericik air, aroma tanah basah—semua menyatu. Di sini, pembangunan terasa bukan tentang megah, tapi tentang hidup manusiawi.

Pantai dijaga. Sawah dialiri. Dua proyek, satu nafas. Warga mulai merasakan manfaatnya sehari-hari. Anak-anak bermain tanpa takut, orang tua bisa santai, petani bisa menghitung musim tanam. Kota Muna perlahan berubah.

Bersambung…