Makassar, katasulsel.com – Jangan remehkan durasi 60 detik. Di tangan tiga mahasiswa Universitas Ichsan Sidenreng Rappang, satu menit bisa jadi “peluru” yang menembus panggung nasional.
Muh. Taslim, Gustina, dan Muh. Gisram S—tiga sekawan dari Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM)—berhasil mencuri perhatian di ajang Codeti-Hackeast 2025 yang digelar Universitas Dipa Makassar. Mereka menyabet Juara III Kategori Video Reels. Bukan lomba joget. Bukan konten prank. Tapi karya serius bertajuk “Dari Timur Kami Mengejar Masa Depan.”
Judulnya saja sudah “nendang”.
Di era ketika generasi muda sering dicap generasi scroll, tim FIKOM UNISAN justru membuktikan bahwa reels bukan cuma ruang flexing, tapi ruang thinking. Mereka meramu visual, narasi, dan semangat Indonesia Timur dalam satu paket storytelling yang ringkas, padat, dan “kena di ulu hati”.
Juri tak sekadar menilai gambar yang estetik. Mereka melihat konsep, pesan, dan relevansi dengan transformasi digital. Singkatnya: bukan cuma cakep, tapi cerdas.
Codeti-Hackeast sendiri bukan event kaleng-kaleng. Ini panggung adu kreativitas mahasiswa se-Indonesia. Formatnya menuntut peserta menyampaikan gagasan secara efektif dalam video pendek. Salah sedikit, pesan buyar. Terlalu panjang, audiens kabur. Terlalu datar, langsung swipe.
Tiga mahasiswa ini berhasil menghindari semua jebakan itu.
Dekan FIKOM UNISAN pun tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Prestasi ini disebut sebagai bukti bahwa mahasiswa FIKOM punya “software” kreativitas dan “hardware” daya saing yang kompatibel dengan level nasional.
Yang menarik, karya mereka tak menjual mimpi kosong. Mereka menjual optimisme. Tentang anak-anak Timur yang tak mau cuma jadi penonton di panggung digital. Tentang generasi yang tak alergi teknologi. Tentang masa depan yang dikejar, bukan ditunggu.
Ini bukan sekadar juara ketiga. Ini pesan simbolik: kampus daerah bukan kampus kelas dua. Di tengah gempuran kampus-kampus besar, UNISAN menunjukkan taringnya—pelan tapi pasti.
Di dunia digital hari ini, siapa yang bisa menguasai narasi, dia yang menguasai persepsi. Dan tiga mahasiswa ini sudah membuktikan, mereka bukan sekadar user. Mereka creator.
Reels mereka mungkin berdurasi singkat. Tapi dampaknya panjang.
Dan satu hal yang pasti: dari Timur, mereka tak lagi sekadar mengejar masa depan. Mereka mulai mendefinisikannya. (*)

Tinggalkan Balasan