📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppKendari, katasulsel.com — Ada yang tiba-tiba mengaku paling mahasiswa.
Mengatasnamakan kampus.
Mengibarkan bendera “kepentingan mahasiswa”.
Padahal, mahasiswa yang asli justru angkat alis.
Itulah yang sedang terjadi di Universitas Sulawesi Tenggara (UNSULTRA) Kendari.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNSULTRA akhirnya angkat suara. Bukan untuk ribut. Tapi untuk meluruskan. Ketua BEM UNSULTRA, Andi Reza, menegaskan satu hal penting: mahasiswa UNSULTRA tidak sedang dalam kondisi darurat seperti yang digembar-gemborkan pihak tertentu.
“Kami tidak pernah menerima laporan dari fakultas maupun program studi terkait ketidaknyamanan proses belajar,” kata Andi Reza, Kamis (5/2/2026).
Kalimat itu sederhana. Tapi menampar.
Sebab, kalau memang ada kegentingan akademik, mestinya laporan pertama masuk ke lembaga mahasiswa. Bukan langsung lompat ke ruang publik dengan narasi dramatis. Apalagi memakai nama mahasiswa aktif—tanpa mandat.
BEM UNSULTRA menyebut klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan opini publik. Bahasa halusnya: terlalu banyak bumbu, minim fakta.
Yang lebih menarik, BEM justru melihat arah sebaliknya. Di bawah kepemimpinan rektor baru, iklim akademik dinilai kondusif dan tidak merugikan mahasiswa.
Ini penting dicatat. Di saat ada yang sibuk membangun narasi ancaman, mahasiswa di dalam kampus masih kuliah, praktikum, diskusi, dan hidup normal.
Wakil Presiden Mahasiswa UNSULTRA, Muhammad Aditia, bahkan bicara lebih keras. Ia mengingatkan bahwa konflik masa lalu tidak pantas dihidupkan kembali dengan menyeret mahasiswa.
“Mahasiswa bukan komoditas konflik. Bukan pula tameng pembenaran atas agenda yang tidak lagi relevan,” ujarnya.
Pesannya jelas: jangan gunakan mahasiswa sebagai properti politik kampus.
BEM UNSULTRA menegaskan komitmennya menolak segala bentuk provokasi yang mengganggu stabilitas akademik. Kampus, kata mereka, bukan panggung sandiwara. Bukan tempat memainkan drama kepentingan pribadi dengan judul besar: “demi mahasiswa”.
“Kalau benar demi mahasiswa, datanglah ke mahasiswa. Dengarkan. Bukan berbicara atas nama mereka,” kira-kira begitu intinya.
Bagi BEM, isu ketidakstabilan yang beredar hari ini lebih mirip manuver momentum—bukan aspirasi murni. Ada aroma kepentingan. Ada jejak masa lalu yang belum rela selesai.
UNSULTRA, menurut BEM, sedang berjalan ke depan.
Yang ingin menariknya ke belakang, silakan bertanya:
itu demi kampus, atau demi diri sendiri? (*)






Tinggalkan Balasan