📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppOleh: IMMawan Muh. Fitra Pak
Sekretaris Bidang Organisasi Pimpinan Cabang IMM Kabupaten Sidrap Periode 2025–2026
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sidenreng Rappang tengah berada pada sebuah fase transisional yang menentukan arah masa depannya. Fase ini tidak sekadar menandai upaya melaju ke depan secara progresif, melainkan menuntut keberanian organisasi untuk berhenti sejenak, bercermin, dan melakukan pembenahan internal secara sadar serta bertanggung jawab.
Dalam konteks inilah, restorasi organisasi menjadi keniscayaan historis yang tidak bisa ditawar.
Restorasi perlu dimaknai sebagai upaya penataan ulang fondasi IMM agar kembali selaras dengan cita-cita ideologisnya. Sebab, realitas yang dihadapi hari ini menunjukkan adanya ketimpangan antara idealitas nilai-nilai IMM dengan praktik kaderisasi dan kepemimpinan di lapangan.
Jika ketimpangan ini dibiarkan, IMM berpotensi kehilangan jati diri sebagai organisasi kader yang berorientasi pada pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berkemajuan.
Salah satu problem mendasar yang patut disorot secara jujur adalah gejala kemunduran intelektual di kalangan kader. Kemunduran ini tidak selalu tampak secara kuantitatif, melainkan hadir dalam bentuk melemahnya tradisi berpikir kritis, menurunnya dialektika keilmuan, serta berkurangnya kepekaan terhadap persoalan sosial, keumatan, dan kebangsaan.
Budaya membaca yang kian memudar, diskusi yang semakin pragmatis, serta minimnya produksi gagasan menunjukkan bahwa proses kaderisasi belum sepenuhnya berfungsi sebagai ruang pencerahan dan pembebasan.
Padahal, IMM sejak kelahirannya menegaskan diri sebagai organisasi kader dengan landasan Tri Kompetensi Dasar: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiganya tidak dapat dipisahkan, apalagi ditinggalkan salah satunya. Ketika aspek intelektual mengalami stagnasi, bahkan regresi, maka keberlangsungan IMM sebagai gerakan ideologis akan berada dalam ancaman serius.
Organisasi mungkin tetap berjalan secara struktural, namun kehilangan ruh kritis dan daya transformasinya.
Oleh karena itu, restorasi tidak boleh dipersepsikan sebagai langkah mundur. Justru sebaliknya, restorasi adalah prasyarat menuju progresivitas yang berkelanjutan. Restorasi berarti menghidupkan kembali nilai-nilai dasar IMM, menegaskan ulang orientasi ideologis, serta membenahi mekanisme kaderisasi agar kembali melahirkan kader yang kritis, berkarakter, dan memiliki daya saing intelektual.
Tanpa fondasi yang kokoh, progresivitas hanya akan menjelma sebagai gerakan simbolik yang rapuh dan miskin substansi.
Di sisi lain, keberhasilan proses restorasi sangat ditentukan oleh model kepemimpinan yang dijalankan. IMM Sidrap ke depan membutuhkan kepemimpinan yang tidak kaku dan eksklusif, melainkan fleksibel, adaptif, dan kontekstual.
Fleksibilitas di sini bukanlah bentuk kompromi terhadap prinsip, tetapi kemampuan membaca dinamika kader, memahami tantangan zaman, serta membuka ruang partisipasi yang luas dan sehat.
Pemimpin IMM hari ini tidak cukup hanya berperan sebagai pengambil keputusan administratif. Lebih dari itu, ia harus tampil sebagai fasilitator intelektual, penggerak budaya diskusi, serta teladan dalam praksis ideologis.
Kepemimpinan yang fleksibel dan humanis akan mampu menjawab realitas kader yang heterogen—baik dari segi latar belakang intelektual, pengalaman organisasi, maupun kondisi personal—tanpa kehilangan arah perjuangan.
Dengan pendekatan dialogis dan partisipatif, kepemimpinan IMM dapat mendorong kader untuk kembali menemukan makna ber-IMM, bukan sekadar sebagai aktivitas struktural, tetapi sebagai proses pembentukan diri dan kesadaran sosial.
Pada titik inilah IMM berfungsi bukan hanya sebagai organisasi, melainkan sebagai ruang pendidikan ideologis dan intelektual yang membebaskan.
Pada akhirnya, narasi besar IMM Sidrap hari ini adalah narasi pembenahan diri. Restorasi menjadi jembatan strategis menuju IMM yang benar-benar progresif—progresif yang tidak tergesa-gesa, tetapi berakar kuat pada nilai, gagasan, dan tradisi intelektual.
Jika proses ini dijalankan secara konsisten, disertai revitalisasi intelektual kader serta kepemimpinan yang fleksibel dan visioner, maka IMM Sidrap memiliki peluang besar untuk kembali menegaskan perannya sebagai lokomotif perubahan, baik di lingkungan kampus maupun dalam realitas sosial yang lebih luas. (*)






Tinggalkan Balasan