Wajo, katasulsel.com — Aula Lampulung Atakkae, Sengkang, Wajo, Senin (23/3/2026), mendadak penuh.
Bukan konser. Bukan pula kampanye. Ini kumpul keluarga. Tapi jangan bayangkan biasa-biasa.
Yang datang adalah Rumpun Besar Petta Jinnirala La Potji, Jinnirala Gilireng.
Sekitar 600 orang. Dari berbagai daerah. Bahkan lintas negara—Malaysia sampai Singapura.
Kalau istilah sekarang: ini “reuni darah”.
Tema yang mereka angkat juga tidak sekadar tempelan spanduk: assisumpungeng loloe dengan prinsip mali siparappe, rebba sipatokkong, malilu sipakainge.
Bahasa Bugis yang maknanya dalam—kalau jatuh saling angkat, kalau goyah saling topang, kalau salah saling ingatkan.
Di tengah zaman yang serba individual, pesan ini terasa “nendang”.
Ketua panitia, A. Ibnu Munzir AS, tidak berpanjang lebar. Ia tahu betul inti acara ini.
“Ini ruang saling memaafkan, mempererat hubungan, dan menyambung komunikasi antar generasi,” ujarnya.
Bahasanya sederhana. Tapi pesannya jelas: keluarga besar jangan sampai jadi sekadar nama.
Sebab, yang mereka rawat bukan keluarga biasa. Petta Jinnirala La Potji dikenal sebagai figur besar dalam sejarah rumpun ini. Ia memiliki 23 anak dari 17 istri. Kini, keturunannya sudah menembus generasi ketujuh.
Artinya: kalau tidak dirawat, bisa tercerai-berai.
Di sinilah pentingnya momen seperti ini.
Drs. Andi Tenriliweng, mewakili generasi ketiga, tampil membawa “memori kolektif”. Ia mengingatkan akar sejarah keluarga ini tidak pendek.
Dari La Tadampare Puang Ri Maggalatung—Arung Matoa Wajo ke-4—hingga La Maddukelleng Arung Peneki. Nama-nama yang bukan sekadar tokoh, tapi simbol kepemimpinan Bugis.
“Petta Jinnirala dikenal sebagai sosok warani, macca, manggenteng, melempu,” katanya.
Kalau diterjemahkan: berani, cerdas, teguh, dan jujur.
Empat kata. Tapi itu “DNA nilai” yang ingin terus diwariskan.
Hikmah halal bihalal dibawakan Prof. Andi Salman Maggalatung, Tenaga Ahli Menteri Agama RI. Pesannya senada: jangan sampai generasi penerus hanya mewarisi nama, tapi kehilangan makna.
Dan itu yang sering terjadi hari ini.
Acara ini terasa berbeda karena bukan sekadar formalitas. Tidak kaku. Tidak dingin. Justru hangat. Cair. Penuh cerita.
Yang hadir juga bukan orang biasa. Ada akademisi, jaksa, anggota DPRD, pejabat daerah. Dari Andi Syahrir Andi Mangnga hingga Andi Ayoga Fadel Akbar—yang disebut-sebut sebagai salah satu anggota DPRD termuda di Sulsel.
Namun, di forum ini, semua lebur.
Tidak ada jabatan. Tidak ada sekat.
Yang ada hanya satu identitas: keluarga.
Di tengah derasnya perubahan zaman, halal bihalal ini seperti “rem sosial”. Mengingatkan bahwa sebesar apa pun seseorang, ia tetap punya akar.
Dan di Sengkang hari itu, akar itu terasa hidup.
Satu hal yang pasti: ini bukan sekadar acara tahunan.
Ini cara sebuah keluarga besar menjaga dirinya tetap utuh.


