📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppWajo, katasulsel.com — Sore belum benar-benar redup. Tapi Kabupaten Wajo sudah ramai. Anak muda bergerak. Tujuannya jelas: ngabuburit.
Titik kumpul pertama? Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sengkang.
Di RTH, suasana jelang Magrib selalu hidup. Motor berjejer rapi. Komunitas kecil duduk melingkar. Ada yang gelar tikar, ada yang sekadar berdiri sambil ngopi cup kekinian. Outfit santai tapi tetap stylish. Story Instagram? Wajib update.
“Kalau nggak ke RTH, rasanya belum sah Ramadhan,” kata Nisa (19), siswi SMA yang tiap sore datang bareng sahabatnya. “Di sini itu vibes-nya dapet banget. Ramai tapi tetap santai.”
War takjil pun dimulai. Pedagang dadakan berjajar di sekitar lokasi. Kolak, es buah, jalangkote, hingga jajanan viral. Anak muda menyebutnya momen “cek ombak dompet.” Murah tapi puas. Low budget, high happiness.
Menjelang azan, sebagian mulai bergeser. Ada yang pulang. Ada yang lanjut buka bersama. Spot favorit berikutnya: Lumiere Cafe & Eatery.
Lumiere jadi magnet baru anak muda Wajo. Tempatnya estetik. Lampu-lampu hangat. Spot foto banyak. Menu beragam. Dari makanan berat sampai dessert kekinian. Bukber di sini? Auto penuh kalau nggak booking dulu.
“RTH buat nongkrong sore, Lumiere buat finish strong,” ujar Aldi (21) sambil tertawa. “Ini paket ngabuburit paling aman.”
Wajo kini punya ritme baru saat Ramadhan. Sore di RTH, malam di kafe. Tradisi dan tren jalan bareng. Dari yang pilih tadarus di masjid, sampai yang sekadar kumpul circle—semua punya ruang.
Yang pasti, suasana hangat terasa. Kota Sutera ini bukan cuma tentang tenun dan Danau Tempe. Tapi juga tentang generasi muda yang menghidupkan senja dengan cara mereka sendiri.
Di Wajo, ngabuburit bukan cuma menunggu Magrib.
Ini soal momen. Soal kebersamaan. Soal cerita yang selalu repeat—tapi nggak pernah bikin bosan. (*)






Tinggalkan Balasan