WAJO, Katasulsel.com — Pondok Pesantren Daarul Mu’minin As’adiyah Doping, Kecamatan Penrang, kembali memperkuat kualitas santrinya. Kali ini melalui bimbingan tahsin dan tilawah yang digelar intensif selama dua hari, mulai Sabtu, 4 April 2026.
Pesertanya bukan sedikit. Santri dari kelas 7 dan 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs) serta kelas 10 dan 11 Madrasah Aliyah (MA) ikut ambil bagian. Mereka digembleng untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an, bukan sekadar lancar, tapi juga benar dan indah.
Ponpes menghadirkan dua pemateri. Ilham Hidayatullah membawakan materi tahsin qiraah atau perbaikan bacaan Al-Qur’an, sementara Baso Hardi Haeruddin fokus pada tilawah atau seni membaca Al-Qur’an.
Pimpinan Ponpes Damu, Agustan Ranreng, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian penting dari pembinaan santri.
“Untuk tahsin, fokusnya perbaikan teknis bacaan agar sesuai makhraj dan hukum tajwid. Ini penting untuk menghindari kesalahan makna,” ujarnya.
Sementara tilawah, kata dia, lebih menitikberatkan pada kelancaran membaca sekaligus penghayatan makna, termasuk seni melagukan ayat atau nagham.
“Supaya bacaan Al-Qur’an tidak hanya benar, tapi juga indah didengar,” tambahnya.
Ia menegaskan, membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar adalah kewajiban. Kesalahan dalam membaca bisa berdampak pada perubahan makna ayat.
Kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai momentum mengisi waktu santri di tengah ujian kelas akhir As’adiyah. Namun, lebih dari itu, ada misi besar di baliknya: mencetak generasi yang mampu membaca Al-Qur’an secara tartil, sesuai kaidah, sekaligus memiliki keindahan dalam lantunan.
Dari Ponpes Damu, harapan itu tumbuh—melahirkan qari dan qariah yang tidak hanya fasih, tetapi juga berkarakter dan berakhlak Qur’ani.


