📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Wajo, katasulsel.com — Wajo tidak sedang berisik. Tapi ia bergerak.

Sejak dilantik 3 Maret 2025, duet H. Andi Rosman, S.Sos., M.M. dan dr. Baso Rahmanuddin memulai kepemimpinan dengan gaya yang relatif tenang. Tidak banyak panggung, tidak banyak gimmick. Tapi satu per satu fondasi dibenahi.

Tahun pertama ini lebih mirip fase groundwork. Konsolidasi, tata kelola, dan penguatan sektor riil. Dan hasilnya mulai terlihat.

Transisi Tanpa Drama

Pergantian kepemimpinan dari Pj. Bupati Bataralipu berjalan mulus. Tidak ada turbulensi politik yang menguras energi. Dalam politik daerah, ini bukan hal kecil. Transisi yang stabil memberi ruang kepala daerah baru untuk langsung bekerja tanpa harus sibuk memadamkan “api sisa”.

Andi Rosman–Baso memilih strategi konsolidasi birokrasi di awal. Mesin pemerintahan harus sinkron sebelum diajak berlari. Pelayanan publik diperbaiki, administrasi ditata ulang, dan arah pembangunan mulai diselaraskan dengan visi besar: “Wajo Maju dan Sejahtera.”

Visi itu bukan sekadar tagline. Ia dijabarkan dalam lima prioritas: peningkatan kualitas SDM, penguatan pertanian dan perikanan, pembangunan infrastruktur dasar, reformasi birokrasi, serta pelestarian budaya dan kearifan lokal.

Paket lengkap. Tapi tentu saja, eksekusi yang menentukan.

WTP ke-14: Bukan Sekadar Sertifikat

Empat bulan pertama kepemimpinan langsung diuji. Hasilnya? Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2024.

Ini bukan WTP biasa. Ini yang ke-14 kali berturut-turut bagi Wajo.

Dan yang lebih penting, ini menjadi WTP pertama di bawah kepemimpinan Andi Rosman–Baso. Dalam bahasa populer, start-nya bersih.

Sebagian orang memandang WTP hanya sebagai simbol administratif. Padahal di balik itu ada sistem pengelolaan keuangan, disiplin anggaran, dan akuntabilitas yang diuji ketat. WTP adalah cermin tata kelola.

Dalam konteks pemerintahan modern, kepercayaan publik dimulai dari transparansi. Tanpa itu, pembangunan hanya akan jadi retorika.

Bersambung…