📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Soppeng, katasulsel.com — Jam menunjukkan pukul 16.45 WITA. Matahari mulai turun pelan-pelan. Langit di atas Kabupaten Soppeng berubah warna.

Kuning keemasan. Anak-anak muda mulai keluar rumah. Outfit sudah on point.

Kamera siap. Story Instagram? Wajib.

Ngabuburit di Soppeng itu bukan sekadar nunggu azan Magrib. Ini sudah jadi ritual sosial. Ajang reunian dadakan. Tempat cari takjil plus cari konten.

Spot favorit? Sekitar Taman Kalong Watansoppeng. Ikon kota yang satu ini selalu ramai. Dari remaja, keluarga muda, sampai bapak-bapak yang sekadar duduk santai sambil bahas politik lokal.

Di bawah pepohonan rindang, suara tawa bercampur dengan bunyi motor yang lalu-lalang. Ada yang gelar tikar. Ada yang nongkrong sambil ngopi. Ada juga yang sibuk bikin konten: “POV: Ngabuburit di Soppeng, vibes-nya beda!”

Satu kata: healing tipis-tipis.

Tak jauh dari situ, pedagang takjil mulai berjajar. Kolak, es buah, jalangkote, pisang ijo—semua ready. Ini momen yang sering disebut anak muda: “war takjil.” Datang telat sedikit, favorit langsung sold out. Auto nyesel.

“Kalau nggak cepat, habis mi,” kata Randi (19), mahasiswa yang hampir tiap sore nongkrong bareng teman-temannya. “Ngabuburit di sini itu paket lengkap. Nongkrong dapat, takjil aman, view sunset dapet banget.”

Yang menarik, ngabuburit di Soppeng bukan cuma soal gaya. Banyak juga yang memilih mengisi waktu dengan hal lebih “deep.” Masjid-masjid mulai penuh jelang Magrib. Remaja masjid sibuk siapkan buka puasa bersama. Ada yang ikut tadarus. Ada yang berbagi takjil gratis di pinggir jalan.

Spirit-nya terasa.

Soppeng yang dikenal sebagai Kota Kalong ini memang punya suasana khas. Tidak terlalu hiruk pikuk, tapi juga tidak sepi. Ada ritme santai yang bikin orang betah. Anak muda bilang: “Low budget, high happiness.”

Di beberapa sudut kota, komunitas kecil juga mulai aktif. Ada yang bikin lapak UMKM dadakan. Ada yang jualan minuman kekinian—matcha, thai tea, sampai es kopi gula aren versi lokal. Ramadhan jadi momen cuan. Istilahnya: berkah maksimal.

Menjelang azan, suasana berubah. Semua fokus. Mata sesekali lihat jam. Begitu beduk terdengar, spontan terdengar suara, “Alhamdulillah!”

Detik itu juga, gelas terangkat. Senyum merekah.

Ngabuburit di Soppeng bukan cuma tren musiman. Ini tentang kebersamaan. Tentang rasa yang sulit dijelaskan. Tentang kota kecil dengan cerita besar setiap senja Ramadhan.

Dan besok sore? Repeat lagi.
Karena di Soppeng, nunggu Magrib itu bukan beban. Tapi momen. (*)