Istilah sederhananya: sawah jangan mati.
Ia percaya satu hal: petani tidak butuh janji besar. Mereka butuh kepastian kecil yang terus dijaga. Air mengalir. Benih tepat waktu. Harga masuk akal.
Maka kebijakan di Wajo bergerak ke sana. Pelan. Konsisten. Tidak meloncat-loncat.
Dan ketika hasilnya datang, ia tidak mengklaimnya sebagai milik pribadi.
“Ini kerja kolektif,” katanya singkat.
Kalimat yang terdengar klise.
Tapi di Wajo, itu nyata.
Surat berkop Garuda Emas itu akhirnya sampai ke meja kerja pemerintah daerah.
Bukan untuk dipajang sebagai hiasan.
Tapi sebagai penanda: negara mengakui.
Penghargaan itu diterima Wakil Bupati, dr. Baso Rahmanuddin. Tapi semua orang tahu, surat itu ditujukan kepada satu sistem. Kepada satu cara bekerja.
Ia bukan piala.
Ia bukan medali.
Ia adalah legitimasi moral.
Bahwa kerja sunyi juga bisa terdengar sampai Jakarta.
Di Wajo, orang mulai menghitung ulang.
7 Januari.
Peringkat 8 nasional—angka yang lahir dari 2025 (2+0+2+5 = 9, satu langkah setelah 8).
Musim tanam yang sering dimulai di bulan ketujuh.
Orang Wajo tidak berlebihan menafsirkan. Tapi mereka percaya: kerja yang konsisten akan menemukan momennya sendiri.
Angka tujuh hanya penanda.
Bukan tujuan.
Tujuannya tetap sama: beras cukup, petani sejahtera.
Bersambung…

Tinggalkan Balasan