📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppBARRU, Katasulsel.com — Setahun memegang kemudi, Andi Ina Kartika Sari tak sedang berlayar di laut tenang. Ombaknya bernama defisit, gelombangnya bernama efisiensi pusat. Tapi justru di tengah arus deras itulah, ia memilih “tancap gas”, bukan tarik rem.
Dalam Dialog Publik bertajuk Barru dalam Nahkoda Perempuan di Makassar, 17 Februari 2026, Andi Ina bicara terbuka. Tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Abustan A. Bintang bukan kisah bulan madu politik. Tahun 2025 ditutup dengan defisit sekitar Rp40 miliar. Masuk 2026, Barru kembali harus menerima pengalihan dana transfer pusat sebesar Rp133 miliar.
Bahasa populernya: ruang fiskal lagi seret-seretnya.
“Tantangan berat, tapi justru di situ kami diuji untuk tetap menunaikan janji politik,” tegasnya.
Fiskal Berdarah, Program Tetap Jalan
Di tengah tekanan anggaran, sejumlah indikator justru menunjukkan tren positif. Angka kemiskinan berbasis kepesertaan BPJS turun tipis dari 8,03 persen (2024) menjadi sekitar 8 persen (2025). Mungkin terlihat kecil di atas kertas, tapi dalam statistik pembangunan, sepersekian persen itu berarti ribuan kepala keluarga.
Di sektor pendidikan, Barru berhasil mengamankan program Sekolah Rakyat untuk anak pra-sejahtera (desil 1 dan 2). Dari 100 sekolah yang diresmikan Presiden pada 2025, ketika Barru masuk arena, kuota tinggal empat. Barru kebagian empat itu.
“Bagi saya, ini soal keberpihakan. Jangan ada lagi anak pra-sejahtera putus sekolah,” ujarnya.
Anggaran program ini tak main-main: sekitar Rp270 miliar. Pembangunan dimulai sejak November lalu. Di sektor pesisir, program Kampung Nelayan senilai Rp9 miliar kini berjalan. Pesannya jelas: pesisir jangan jadi halaman belakang pembangunan.






Tinggalkan Balasan