📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppPengamat politik Dr. Andi Luhur Prianto menilai konsolidasi elite di era Andi Ina cukup solid. Kolaborasi politisi dan birokrat relatif cair. Tapi ia mengingatkan, eksekusi RPJMD dan pemerataan pembangunan—antara dataran rendah, pegunungan, hingga pesisir—adalah ujian sebenarnya.
Di era media sosial, satu jembatan putus bisa viral dalam hitungan menit. Respons cepat tak selalu secepat ekspektasi publik. Di situlah kepemimpinan diuji, bukan hanya oleh data, tapi oleh persepsi.
Lebih dari Sekadar Simbol
Aktivis perempuan Emma Husain menegaskan, kehadiran Andi Ina bukan sekadar simbol pemimpin perempuan. Ia membawa pendekatan komunikatif dan sensitivitas sosial. Tantangannya ke depan: memastikan kebijakan semakin responsif dalam perspektif gender, bukan hanya inklusif di atas kertas.
Setahun pertama Andi Ina adalah fase bertahan sekaligus bergerak. Fiskal memang berdarah, tapi mesin pembangunan tak berhenti total. Fondasi mulai disusun, jangkar pertanian ditegaskan, pendidikan dan pesisir disentuh.
Tahun kedua akan menjadi fase pembuktian sesungguhnya. Sebab dalam politik lokal, publik tak hanya menghitung angka—mereka mengukur rasa keadilan dan dampak nyata.
Barru kini berada di tangan nahkoda perempuan. Pertanyaannya sederhana: apakah layar akan terus terkembang, atau tersangkut badai fiskal berikutnya? Waktu yang akan menjawab.(*)






Tinggalkan Balasan