📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Sinergi Forkopimda, kolaborasi dengan ulama, serta penguatan kegiatan keagamaan dan adat istiadat menjadi modal sosial. Ini bukan sekadar harmoni simbolik. Stabilitas sosial adalah fondasi ekonomi.

Sidrap tidak dibangun dengan gaduh. Ia dibangun dengan ritme.

23 Penghargaan: Prestasi atau Formalitas?

Sepanjang tahun pertama, Pemkab Sidrap mengoleksi 23 penghargaan tingkat nasional dan provinsi. Daftarnya tidak main-main: pendidikan, tata kelola pemerintahan, keuangan daerah, kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi transaksi keuangan, hingga integritas pelayanan publik.

Sebagian orang mungkin skeptis pada penghargaan. Tapi dalam tata kelola modern, pengakuan institusi eksternal adalah indikator bahwa sistem berjalan di rel yang benar.

Digitalisasi transaksi keuangan daerah misalnya, bukan sekadar adaptasi teknologi. Ia bicara soal transparansi dan akuntabilitas. Tata kelola yang rapi adalah pondasi investasi.

Sidrap sedang memoles wajah birokrasi agar lebih profesional.

Ringkas Tapi Tajam

Kalau dirangkum, capaian setahun SAR–KANAAH bisa dibaca dalam matriks sederhana:

Ekonomi: pertumbuhan meningkat, sektor pertanian dan UMKM diperkuat.
Kesehatan: BPJS gratis menyentuh langsung kebutuhan dasar.
Infrastruktur: listrik masuk sawah, hunian layak untuk warga.
Pemerintahan: 23 penghargaan, penguatan tata kelola dan digitalisasi.
Sosial-Budaya: kolaborasi ulama, kegiatan keagamaan, dan adat diperkuat.

Ini kombinasi antara program cepat yang impactful dan strategi jangka panjang yang sistematis.

Tantangan Tahun Kedua

Namun, politik akselerasi selalu punya risiko: ekspektasi publik ikut naik. Tahun pertama adalah momentum. Tahun kedua adalah ujian konsistensi.

Pertumbuhan ekonomi harus berbanding lurus dengan kesejahteraan riil. Program BPJS harus dijaga kualitas layanannya. Listrik masuk sawah harus diikuti peningkatan hasil panen. Penghargaan harus diterjemahkan menjadi pelayanan yang makin cepat dan bersih.

Bersambung…