📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppDi Sidrap, emas bukan sekadar aset. Ia adalah bahasa budaya. Terutama dalam pernikahan.
“Orang Sidrap itu tahu sendiri, kalau pengantin banyak emasnya. Cilla-cilla (beling-beling),” ujar Syahar.
Kalimat sederhana itu memuat makna sosial yang dalam. Emas adalah simbol harga diri, kemapanan, dan kehormatan keluarga.
Semakin berat emas yang dikenakan pengantin, semakin tinggi gengsi yang dipertontonkan. Tradisi ini tak lapuk oleh zaman. Justru, ia makin hidup di tengah ekonomi yang tumbuh.
Wajo pun punya cerita serupa. Kabupaten ini dikenal sebagai masyarakat perajin, pedagang, dan penabung.
Emas menjadi instrumen simpanan yang dipercaya turun-temurun. Bukan di bank, tapi di laci rumah. Bukan di deposito, tapi di leher dan tangan. Ketika harga emas naik dan transaksi meningkat, efeknya langsung tercermin di statistik inflasi.
Belum lagi skincare. Produk yang dulu dianggap pelengkap, kini naik kasta menjadi kebutuhan gaya hidup. Dari remaja hingga orang tua, dari desa hingga kota, skincare menjadi bagian dari rutinitas harian.
Fenomena glow up, self-care, dan kesadaran penampilan menjalar cepat, terutama di daerah dengan daya beli yang sedang naik.
“Makanya skincare dan emas yang membuat kita inflasi. Kalau yang lain-lain aman, karena ekonomi orang Sidrap tumbuh,” jelas Syahar.






Tinggalkan Balasan