Pareparem katasulsel.com — Ada skor yang hanya tercatat di statistik. Ada skor yang menggeser kompas musim.

Empat dua.

Di Stadion Gelora BJ Habibie, angka itu bukan sekadar hasil akhir. Ia seperti turning point. Mengguncang fondasi PSM Makassar. Sekaligus mengangkat derajat Persita Tangerang di papan persaingan Liga 1.

PSM sebenarnya start sempurna. Leading 2-0. High pressing hidup. Build-up rapi. Atmosfer kandang berpihak.

Tapi sepak bola bukan cuma soal start cepat. Ini soal game management. Soal bagaimana mengontrol tempo ketika unggul. Dan di titik itulah PSM kehilangan grip.

Setelah skor 2-2, shape melebar. Transisi negatif lambat. Koordinasi lini belakang retak. Dalam istilah populer: kehilangan compactness.

Persita membaca momentum dengan presisi. Direct play. Vertical pass. Quick counter. Tidak banyak sentuhan, tapi efektif. Gol ketiga jadi momentum swing. Gol keempat adalah kill the game.

Skor 4-2 itu seperti garis pembatas: sebelum dan sesudah.

Di klasemen sementara Liga 1, dampaknya terasa. Persita kini bertahan di peringkat keenam dengan 38 poin. Selisih mereka dengan lima besar sangat tipis. Zona elite bukan lagi mimpi. Dengan mental comeback seperti ini, mereka sedang dalam upward trajectory—naik dengan percaya diri.

Sebaliknya, PSM tertahan di posisi ke-13 dengan 23 poin. Memang belum menyentuh zona degradasi. Tapi jarak aman makin menipis. Empat laga tanpa kemenangan membuat mereka masuk fase rawan. Dalam liga panjang, fase seperti ini bisa menjadi spiral negatif jika tak segera dihentikan.

PSM bukan kekurangan kualitas. Mereka bisa mencetak gol. Bisa unggul cepat. Tapi konsistensi dan stabilitas defensif jadi problem klasik musim ini. Tanpa perbaikan struktur pertahanan dan manajemen tempo, musim bisa berubah arah dari berburu papan atas menjadi bertahan dari tekanan bawah.

Sementara Persita? Mereka menunjukkan resilience—mental baja saat tertinggal dua gol. Tim dengan mentalitas seperti ini biasanya sulit tergelincir. Ruang ganti penuh kepercayaan diri. Momentum sedang berpihak.

Empat dua.

Satu skor. Dua nasib berbeda.

PSM kini di persimpangan: reset total atau terus tergerus.

Persita sudah memilih jalur mereka: gas, jaga konsistensi, dan bidik lima besar. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.