Makassar, katasulsel.com — Halalbihalal biasanya soal nostalgia kampung halaman.

Tapi bagi Munafri Arifuddin, momentum itu justru jadi pintu masuk membicarakan masa depan—dan Soppeng ada di tengahnya.

Jumat malam (27/3/2026), di Four Points by Sheraton Makassar, keluarga besar Kerukunan Keluarga Soppeng berkumpul.

Hangat. Akrab. Penuh cerita lama.

Tapi Munafri tidak ingin malam itu hanya berhenti di kenangan.

Soppeng Bukan Sekadar Asal-usul

Di hadapan warga Soppeng, Munafri menyampaikan satu pesan penting:

Makassar tidak bisa dibangun sendiri.

Dan di titik ini, ia seperti sedang menunjuk langsung ke diaspora Soppeng.

Bagi dia, Soppeng bukan sekadar daerah asal.
Tapi sumber energi—orang-orang dengan pengalaman, jaringan, dan cara pandang yang bisa mempercepat laju kota.

Dari Kampung Halaman ke Pusat Pertumbuhan

Komunitas Soppeng di Makassar bukan kecil.

Ada pengusaha.
Ada profesional.
Ada generasi muda yang lahir di kota, tapi tetap membawa identitas Soppeng.

Advertisement

Munafri melihat ini sebagai kekuatan yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Ia mengajak mereka bukan hanya hadir di acara seperti ini—
tapi ikut masuk ke dalam proses pembangunan.

Creative Hub: Pintu Masuk Anak Muda Soppeng

Salah satu yang ditekankan adalah pemanfaatan Makassar Creative Hub.

Tempat ini bukan sekadar fasilitas.

Ia adalah ruang bagi ide-ide baru—
dan Munafri secara khusus mendorong anak muda Soppeng untuk masuk ke sana.

Berinovasi.
Berkolaborasi.
Menciptakan sesuatu yang bisa berdampak lebih luas.

Kolaborasi Lintas Daerah, Bukan Lagi Pilihan

Munafri juga menegaskan bahwa kerja sama lintas daerah—termasuk dengan Soppeng—bukan lagi opsi.

Ia adalah kebutuhan.

Pendidikan, ekonomi, hingga pariwisata disebut sebagai sektor yang bisa digarap bersama.

Dan di situlah hubungan Makassar–Soppeng menemukan relevansinya:
bukan hanya emosional, tapi strategis.

Makassar Terbuka, Soppeng Diajak Masuk

Advertisement

Pesan terakhirnya sederhana:

Makassar membuka diri.

Untuk siapa saja—termasuk warga Soppeng—yang ingin ikut mengambil peran.

Bukan sekadar datang.
Tapi berkontribusi.

Lebih dari Halalbihalal

Acara selesai.
Orang-orang pulang.

Tapi satu gagasan tertinggal:

Bahwa Soppeng tidak hanya hadir sebagai identitas,
melainkan bisa menjadi bagian penting dari masa depan Makassar.

Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Soppeng punya peran.

Tapi:

Seberapa jauh warga Soppeng mau melangkah—dari nostalgia ke aksi nyata?

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.