Di tengah ribuan jamaah, suara Bupati Syaharuddin Alrif terdengar berbeda: serak, berat, dan penuh emosi.

Oleh: Edy Basri

Pagi itu bukan pagi biasa.

Langit di atas Stadion Ganggawa masih lembut. Matahari pelan-pelan naik, seakan tak ingin mengganggu kekhusyukan ribuan warga yang sudah memadati lapangan sejak subuh.

Takbir bergema. Mengalun. Menyatu dengan langkah-langkah masyarakat yang datang dari berbagai penjuru.

Semua mengarah ke satu titik: Salat Idulfitri 1447 Hijriyah.

Namun pagi itu, bukan hanya takbir yang terasa kuat. Ada sesuatu yang lain. Lebih dalam. Lebih menyentuh.

Ketika Syaharuddin Alrif berdiri di depan mikrofon, suasana mendadak berubah.

Ia tidak langsung bicara.

Ia diam.

Beberapa detik yang terasa panjang.

Seolah ia sedang mengumpulkan sesuatu di dalam dirinya—kata-kata, perasaan, atau mungkin kenangan satu tahun terakhir yang tidak mudah dilalui.

“Saudaraku… masyarakat Sidrap yang saya cintai…” ucapnya pelan.

Nada suaranya tidak seperti biasanya. Tidak tegas, tidak menggebu. Justru terdengar berat. Tertahan. Bahkan di beberapa bagian mulai serak.

Di titik itu, orang-orang mulai sadar—ini bukan sambutan biasa.

Syahar—begitu ia akrab disapa—tidak sedang membaca teks. Ia sedang bicara dari hati.

“Ini bukan sekadar Lebaran,” katanya.

Ia berhenti sejenak. Menarik napas panjang.

“Ini adalah energi baru… untuk kita semua.”

Kalimatnya sederhana. Tapi terasa menembus.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak berhenti di euforia Idulfitri. Tidak hanya di pakaian baru atau saling memaafkan. Tapi menjadikan momen ini sebagai titik awal untuk melangkah lebih jauh.

Lebih kuat. Lebih serius. Lebih bersama.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.