Di bagian lain, Wakil Bupati Nurkanaah. Tenang. Menyimak. Sesekali menatap jamaah yang mulai larut dalam suasana.

Lalu, Syahar mulai membuka cerita.

Cerita tentang satu tahun.

Satu tahun yang, bagi sebagian orang mungkin singkat. Tapi bagi seorang pemimpin, itu adalah perjalanan panjang yang penuh tekanan, harapan, dan ujian.

“Kalau kita jujur…” katanya pelan.

“Dulu Sidrap ini… tidak selalu dipandang baik. Stigma buruk selalu terdengar”

Kalimat itu langsung membuat suasana semakin hening.

Ia tidak menyebut secara gamblang stigma apa yang dimaksud. Tapi semua orang paham. Sidrap pernah berada dalam bayang-bayang persepsi negatif. Dalam sorotan yang tidak selalu membanggakan.

Dan pagi itu, di hadapan ribuan warga, Syahar memilih untuk tidak menutupinya.

Ia justru mengakuinya.

“Banyak stigma negatif yang melekat pada daerah kita,” lanjutnya. Suaranya mulai serak. “Tapi…”

Ia berhenti lagi.

Kali ini lebih lama.

Seolah ingin memastikan setiap kata berikutnya benar-benar sampai.

“Dalam satu tahun terakhir… kita, bangkit. Kita bergerak maju”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras. Tapi justru di situlah kekuatannya.

Bangkit.

Satu kata. Tapi penuh makna.

Syahar kemudian bercerita bagaimana Sidrap perlahan membenahi diri. Bukan dengan slogan kosong. Tapi dengan kerja nyata.

Lebih banyak di lapangan ketimbang di kantor. Melayani masyarakat, 24 jam, siang dan malam..

Ia menyebut, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Tapi setapak demi setapak. Pelan, tapi pasti.

Dan hasilnya… mulai terlihat.

“Sekarang kita tunjukkan,” katanya.

“Bukan hanya ke Sulawesi Selatan… tapi ke Indonesia.”

Di titik ini, nada suaranya mulai naik sedikit. Bukan karena emosi, tapi karena keyakinan.

Ia lalu menyampaikan salah satu capaian paling mencolok.

Pertumbuhan ekonomi Sidrap mencapai 7,71 persen.

Tertinggi di Sulawesi Selatan.

Bahkan, menurutnya, menempatkan Sidrap di posisi ke-16 dari seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Kalimat itu membuat beberapa jamaah saling berbisik. Ada rasa bangga yang pelan-pelan muncul.

Bukan bangga yang berisik. Tapi bangga yang diam-diam menghangatkan.

Syahar tidak berhenti di situ.

Ia membawa jamaah masuk lebih dalam ke realitas pembangunan.

Ia bicara tentang sawah. Tentang petani. Tentang padi, jagung dan telur yang menjadi denyut nadi Sidrap.

Produksi padi mencapai 679.772 ton. Angka yang bagi petani bukan sekadar statistik, tapi hasil dari keringat, doa, dan harapan.

Ia juga menyebut sektor peternakan. Populasi ayam meningkat hingga 26 persen. Sebuah tanda bahwa ekonomi rakyat bergerak, tidak hanya di kota tapi juga di desa.

Namun, di tengah semua capaian itu, Syahar tetap kembali ke satu hal: manusia.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.