Ia menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang kini berada di angka 75,49—tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Tapi ia tidak berhenti di angka.
Ia menerjemahkannya dengan bahasa yang membumi.
Bahwa masyarakat kini hidup lebih sehat. Anak-anak bisa sekolah lebih lama. Dan keluarga memiliki daya beli yang lebih baik.
“Kalau masyarakat kita sehat…” katanya pelan.
“Kalau anak-anak kita sekolah… kalau ekonomi keluarga berjalan…”
Ia kembali berhenti.
Suaranya semakin lirih.
“Itu yang paling penting.”
Di titik ini, emosinya kembali terasa. Seolah ia benar-benar ingin memastikan bahwa pembangunan yang ia pimpin tidak hanya indah di laporan, tapi nyata di kehidupan masyarakat.
Ia juga menyinggung angka kemiskinan yang turun menjadi 4,91 persen—terendah di Sulawesi Selatan.
Namun lagi-lagi, ia tidak menyebutnya sebagai kemenangan besar. Ia justru terdengar hati-hati.
Seolah ia tahu, masih ada yang harus diperjuangkan.
Masih ada yang belum selesai.
Pagi itu, Ganggawa seperti berubah menjadi ruang pengakuan.
Syahar tidak sedang menunjukkan keberhasilan. Ia sedang berbagi perjalanan.
Perjalanan dari stigma menuju kepercayaan.
Dari keraguan menuju harapan.
Dari masa lalu yang berat menuju masa depan yang mulai terang.
Memasuki bagian akhir, ia mulai bicara tentang arah ke depan.
Tahun 2026.
Tentang jalan-jalan yang harus diperbaiki. Tentang akses yang harus dibuka. Tentang bagaimana masyarakat harus bisa bergerak lebih mudah, dari kota hingga pelosok.
Program “Jalan Mulus” ia sebut dengan nada penuh harap.
Dari Amparita, Tanrutedong, Lancirang, hingga Belawae dan Buntubuangin—semua harus tersentuh.
Ia juga menekankan pentingnya irigasi. Bahwa ketahanan pangan tidak bisa ditawar. Bahwa petani harus didukung, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan air yang benar-benar mengalir ke sawah mereka.
Menjelang akhir sambutan, ia kembali diam sejenak.
Kali ini lebih lama.
Suaranya ketika kembali terdengar… benar-benar serak.
