“Semangat Ramadan…” katanya pelan.
“Jangan berhenti hari ini.”
Kalimat itu menggantung di udara. Menyentuh. Dalam.
Ia mengajak semua yang hadir untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja lebih baik. Peduli lebih dalam. Bersatu lebih kuat.
Menuju Sidrap yang ia gambarkan dengan kata-kata sederhana, tapi penuh makna: berkah, bercahaya, bersih, aman, dan religius.
Setelah itu, ia terdiam.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorakan.
Hanya hening.
Hening yang panjang.
Hening yang penuh rasa.
Dan di situlah, banyak yang menyadari—mereka tidak hanya mendengar pidato.
Mereka menyaksikan ketulusan.
Menyaksikan seorang pemimpin yang, di pagi Idulfitri itu, tidak berbicara sebagai pejabat…
Tapi sebagai manusia.
Salat Id pun dimulai.
Takbir kembali menggema.
Namun satu hal yang tersisa di benak banyak orang pagi itu adalah satu kalimat sederhana, yang diucapkan dengan suara serak:
Bahwa Sidrap… tidak boleh lagi kembali ke masa lalu.
Bahwa Sidrap… harus terus bangkit.
