Sidrap Ngebut: 45 Ribu Hektare Tertanam, 7,3 Ton per Hektare, Petani Bisa Kantongi Rp57 Juta
Makassar, katasulsel.com — Nama Sidrap kembali mencuri perhatian di sektor pertanian Sulawesi Selatan. Di tengah pembahasan cetak sawah rakyat dan mitigasi kekeringan, daerah ini memamerkan sederet angka yang bikin menoleh: 45.000 hektare luas tanam, 860 hektare sawah baru, produktivitas 7,3 ton per hektare, hingga estimasi pendapatan petani Rp57 juta per musim tanam.
Capaian itu dipaparkan langsung Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, pada Rapat Koordinasi Cetak Sawah Rakyat dan Mitigasi Kekeringan Wilayah Sulsel 2026 di Hotel Dalton Makassar, Jumat (22/5/2026).
Sorotan utama datang dari keberhasilan sektor pertanian yang disebut ikut mengangkat Sidrap menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan pada 2025.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Menurut Syaharuddin, intervensi bantuan pertanian yang masuk ke Sidrap mulai menunjukkan hasil nyata, terutama pada produktivitas lahan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
“Bantuan tersebut telah dilaksanakan dan diterima masyarakat dengan baik sehingga sektor pertanian mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Sidrap tertinggi di Sulawesi Selatan pada tahun 2025,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, hingga akhir Mei 2026 realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Sidrap sudah menyentuh 45.000 hektare, atau lebih dari 60 persen target tahunan.
Sementara untuk program Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025, Sidrap telah merealisasikan 860 hektare lahan baru. Sebagian besar area itu sudah ditanami dan pemerintah menargetkan seluruh lahan mencapai 100 persen tanam pada musim tanam kedua tahun ini.
Yang paling menarik datang dari Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng. Di lokasi cetak sawah itu, hasil ubinan menunjukkan produktivitas mencapai 7,3 ton gabah per hektare.
Angka itu tak kecil. Dari hitungan pemerintah daerah, produktivitas tersebut bisa memberi potensi pendapatan petani sekitar Rp57 juta dalam satu musim tanam.
Bagi Sidrap, ini bukan sekadar soal sawah baru. Ini jadi bukti lahan yang sebelumnya belum produktif bisa berubah menjadi sumber cuan bagi petani.
“Hal ini membuktikan bahwa program cetak sawah mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus kesejahteraan petani,” kata Syaharuddin.
Untuk menopang sawah tadah hujan, Pemkab Sidrap juga menggeber program optimasi lahan non-rawa. Caranya lewat kombinasi pompanisasi, irigasi air tanah, hingga listrik masuk sawah yang didukung PLN.
Skema ini membuat petani tak lagi sepenuhnya bergantung pada musim hujan, sekaligus menjaga suplai air lebih stabil saat ancaman kekeringan datang.
Bersambung…………
Di sisi lain, Syaharuddin juga mendorong percepatan koordinasi pengerjaan saluran irigasi Bendung Sadang agar tidak mengganggu target Indeks Pertanaman (IP) Padi 300 di Sidrap.
Tak ingin berhenti di capaian saat ini, Sidrap juga mengusulkan tambahan infrastruktur pertanian 2026, mulai dari irigasi perpompaan, embung, dam parit, hingga long storage.
Dari angka-angka itu, Sidrap sedang mengirim pesan kuat: pertanian bukan lagi sektor tradisional, tapi mesin utama pertumbuhan ekonomi daerah. (*)
