Sidrap, katasulsel.com – Malam Jum’at (27/2) di halaman Masjid Agung Pangkajene, energi religius Sidrap terasa menggelegar. Ribuan masyarakat hadir mengikuti Tabligh Akbar, menyaksikan langsung bagaimana Bupati Syaharuddin Alrif (SAR) dan Ustad Das’ad Latif berbicara tentang kepemimpinan, rakyat, dan keberkahan Ramadan.
Bagi SAR, rakyat harus nomor satu. Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata, tapi cara berpikir yang mengalir dalam setiap program Pemerintahan SARkanaah. Dari pembangunan fisik sampai penguatan masyarakat religius, semuanya diarahkan agar warga Sidrap mendapat manfaat maksimal.
Ustad Das’ad Latif, dari mimbar gasspoll-nya, menanggapi: “Saya pasti setuju. Kepemimpinan yang baik adalah yang mendahulukan kepentingan rakyat. Kalau pemimpin nyaman sendiri tapi rakyat tersiksa, itu namanya salah kaprah.”
Malam itu terasa berbeda. Tidak hanya tausiah, tapi juga perpaduan visi religius dan pembangunan. SAR menegaskan, revitalisasi Sidrap religius—lumbung ulama dan penghafal Al-Qur’an—adalah program prioritas. Bukan sekadar slogan, tapi fondasi agar proyek pembangunan dan pelayanan publik bisa berjalan lancar.
“Vitalitas Sidrap religius tidak bisa dipisahkan dari pembangunan yang nyata,” kata SAR. “Kalau warga kuat secara moral dan religius, pembangunan material pun akan lebih mulus. Semua energi kita kolektif, bukan hanya pemerintah atau elite saja.”
Ribuan jamaah terlihat menyimak dengan seksama. Ada yang tersenyum, ada yang mengangguk, bahkan beberapa tampak meneteskan air mata haru saat penyerahan doa dan pesan dari SAR maupun Ustad Das’ad Latif. Kekhusyukan itu membuktikan, Sidrap religius bukan hanya jargon, tapi gerakan nyata yang menumbuhkan solidaritas, empati, dan semangat gotong royong.
Malam itu, jelas sekali: kepemimpinan SAR bukan tentang popularitas atau gelar, tapi tentang dampak nyata bagi rakyat. Dan Ustad Das’ad Latif? Dari mimbar, ia memberi lampu hijau penuh canda dan serius: “Kalau rakyat nomor satu, saya pasti setuju!”
Tabligh Akbar malam itu menjadi simbol vitalitas Sidrap—religius, peduli, dan bergerak bersama membumikan keberkahan Ramadan. (syamsuddin saleng)

Tinggalkan Balasan