Sidrap, Sidraptimur.com – Kabupaten Sidenreng Rappang kembali menjadi perbincangan di level nasional. Kali ini bukan karena politik atau polemik. Tapi karena angka ekonomi yang “berlari kencang”.
Pertumbuhan ekonomi Sidrap tercatat 7,71 persen. Angka itu menjadikannya yang tertinggi di Sulawesi Selatan.
Prestasi itu bahkan membuat Kepala Badan Pusat Statistik RI, Amalia Adininggar Widyasanti, turun langsung melihat aktivitas ekonomi di daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan tersebut.
Bagi Amalia, capaian Sidrap bukan sekadar angka statistik di laporan tahunan.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi yang tinggi di daerah ini menunjukkan aktivitas ekonomi riil yang bergerak kuat dari sektor produksi hingga distribusi.
“Sidrap menunjukkan performa ekonomi yang sangat baik. Pertumbuhan ini menandakan aktivitas ekonominya berjalan dan memberi dampak nyata,” ungkapnya saat melakukan kunjungan kerja di Sidrap.
Pujian dari orang nomor satu di BPS itu tentu bukan hal kecil. Sebab lembaga tersebut menjadi rujukan utama pemerintah dalam membaca peta ekonomi nasional.
Ekonomi dari Sawah dan Kandang Ayam
Jika melihat struktur ekonomi Sidrap, sektor pertanian dan peternakan memang menjadi tulang punggung.
Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar di Sulawesi Selatan.
Selain itu, industri peternakan ayam petelur dan ayam pedaging juga berkembang pesat. Produksinya bahkan memasok berbagai daerah di luar Sidrap.
Tak heran jika aktivitas ekonomi dari sektor pangan ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Kunjungan Kepala BPS RI juga diarahkan untuk melihat langsung sektor-sektor tersebut.
Mulai dari penggilingan beras modern, peternakan ayam skala besar, hingga aktivitas petani di sawah.
Bagi BPS, melihat langsung aktivitas ekonomi di lapangan menjadi cara terbaik memahami bagaimana angka statistik terbentuk.
Komentar Bupati Sidrap
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyambut positif kunjungan Kepala BPS
Menurutnya, capaian pertumbuhan ekonomi 7,71 persen merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat Sidrap.
Mulai dari petani, peternak, pelaku usaha, hingga pemerintah daerah.
“Kami bersyukur dan bangga karena Sidrap bisa menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan,” kata Syaharuddin.
Namun bagi Syahar, angka itu bukan tujuan akhir.
Justru menjadi motivasi agar pemerintah daerah terus memperkuat sektor-sektor ekonomi yang sudah terbukti menjadi penggerak utama.
Ia menegaskan, fokus pembangunan Sidrap ke depan tetap bertumpu pada sektor pertanian, peternakan, serta penguatan ekonomi desa.
“Pertumbuhan ekonomi ini lahir dari kerja keras masyarakat. Pemerintah daerah hanya memastikan ekosistemnya berjalan baik,” ujarnya.
Sidrap Jadi Perhatian
Kedatangan Kepala BPS RI ke Sidrap juga menjadi simbol bahwa daerah ini mulai mendapat perhatian lebih luas.
Tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga nasional.
Di tengah persaingan pembangunan antar daerah, capaian pertumbuhan ekonomi 7,71 persen menjadi semacam “kartu identitas baru” bagi Sidrap.
Daerah yang selama ini dikenal dengan sawah luas dan kandang ayam itu kini juga dikenal sebagai daerah dengan ekonomi yang tumbuh paling cepat di Sulsel.
Bagi banyak orang, angka itu mungkin sekadar statistik.
Namun bagi masyarakat Sidrap, angka tersebut adalah cerminan kerja keras dari ladang-ladang padi, kandang ayam, hingga pasar tradisional yang setiap hari menggerakkan ekonomi daerah.
Dan ketika Kepala BPS RI datang langsung memberikan apresiasi, pesan itu terasa semakin kuat.
Sidrap bukan hanya lumbung pangan.
Sidrap sedang menjadi salah satu mesin ekonomi baru di Sulawesi Selatan.



Tinggalkan Balasan