📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, Katasulsel.com – Hingga Rabu, 5 Februari 2026, kasus tawuran antarkelompok pemuda di Jalan Inspeksi Kanal Al Markaz, Kecamatan Tallo, telah mengalami perkembangan penting. Polisi berhasil menangkap tiga terduga pelaku kurang dari 24 jam setelah kejadian, yaitu IL alias Mailo (18), MT alias Faras (18), dan MN (19). Kapolsek Tallo AKP Asfada memimpin langsung penyisiran, dengan MN menjadi pelaku pertama yang diamankan.
Tawuran itu sendiri terjadi Jumat (30/1/2026) sore dan berakhir tragis. Basir alias Cambo (42), seorang buruh harian lepas, menjadi korban nyawa melayang saat berusaha melerai konflik. Anak panah yang dilepaskan salah satu pelaku menembus dada kiri Basir, tepat mengenai jantung. Jarak antara pelaku dan korban diperkirakan hanya enam meter.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menjelaskan, tawuran bermula dari ajakan sekelompok pemuda. “Sekitar delapan orang dari kelompok Layang dan kurang lebih 30 orang dari kelompok Sapiria terlibat,” jelas Arya saat konferensi pers di Aula Mapolrestabes, Jalan Ahmad Yani, Rabu (5/2/2026).
Yang unik dan tragis, Basir bukan bagian dari pertikaian. Ia hadir sebagai mediator, mencoba menenangkan situasi. “Korban datang untuk melerai, bukan bertarung. Tapi tertembus anak panah dan meninggal dunia,” ujar Arya.
Kasus ini menjadi sorotan karena alat yang digunakan: anak panah. Di tengah kota modern, senjata tradisional ini tetap mematikan. Tawuran yang seharusnya bisa diselesaikan dengan tangan kosong berubah fatal karena senjata mematikan tersebut.
Ketiga pelaku dijerat Pasal 459 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Polisi juga telah memeriksa enam saksi untuk mendalami kronologi dan motif di balik tawuran.
Bagi warga sekitar, tawuran ini meninggalkan trauma dan rasa takut. Jalan Inspeksi Kanal Al Markaz, yang biasanya ramai aktivitas harian, kini menjadi saksi bisu konflik yang tak terkendali. Keluarga Basir kehilangan kepala rumah tangga mereka, dan duka mendalam menyelimuti rumahnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa konflik antarkelompok pemuda bisa berubah menjadi tragedi fatal, meskipun ada upaya mediasi. Polisi menegaskan komitmennya menindak tegas pelaku agar kejadian serupa tidak terulang, sekaligus memberi efek jera bagi kelompok pemuda yang sering tawuran.
Di balik fakta hukum, tersimpan kisah tragis seorang buruh harian yang tewas saat berusaha menenangkan pertikaian. Jalan Inspeksi Kanal Al Markaz menjadi saksi bisu bahwa upaya damai pun bisa berakhir maut bila kekerasan dibiarkan berkembang.(*)






Tinggalkan Balasan