📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Bone, katasulsel.com — Tidak semua perang dimenangkan di luar barak. Kadang musuh justru bersembunyi di dalam rumah sendiri. Itulah pesan sunyi yang disampaikan Polres Bone, Rabu pagi itu.

Tiga personel polisi—yang seharusnya berdiri di garis depan pemberantasan narkoba—justru tumbang oleh barang haram yang sama. Mereka tidak diadili di ruang publik. Mereka diakhiri kariernya di halaman Mapolres Bone, lewat upacara yang sunyi tapi tegas: Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH).

Kapolres Bone AKBP Sugeng Setio Budhi memimpin langsung prosesi itu. Tidak ada sorak. Tidak ada selebrasi. Yang ada hanya pernyataan sikap institusi: narkoba adalah garis mati—termasuk bagi polisi.

Tiga nama disebut. Aipda SPR. Aipda RBW. Bripka EVN. Semuanya telah melewati proses panjang: pemeriksaan, sidang kode etik, hingga pertimbangan hukum internal. Ujungnya satu: mereka tidak lagi layak mengenakan seragam cokelat.

Dalam amanatnya, Kapolres Bone tidak menyamarkan kenyataan. PTDH, kata dia, bukan prestasi. Bukan pula kebanggaan. Ia adalah jalan terakhir—yang pahit namun harus ditempuh—demi menjaga kehormatan Polri.

“Ini bukan kebanggaan institusi. Ini langkah tegas agar marwah, wibawa, dan kepercayaan publik tetap terjaga,” ujarnya lugas.

Secara hukum, keputusan itu berdiri di atas landasan kuat. PP Nomor 1 Tahun 2003 membuka ruang PTDH bagi anggota Polri yang melakukan pelanggaran berat. Penyalahgunaan narkoba masuk kategori paling serius—karena merusak disiplin, etika, sekaligus kepercayaan publik.

Aturan disiplin Polri dan Kode Etik Profesi Polri menegaskan hal yang sama: narkotika adalah musuh absolut aparat penegak hukum. Siapa pun yang terseret, harus siap menerima konsekuensinya.

Upacara PTDH itu disaksikan Wakapolres Bone Kompol Antonius Tutleta, para pejabat utama, perwira, seluruh personel, serta ASN Polri. Semua berdiri. Semua diam. Semua tahu: ini peringatan keras, bukan sekadar seremoni.

Polres Bone ingin satu pesan sampai ke mana-mana: tidak ada ruang kompromi bagi narkoba. Tidak di jalanan. Tidak di kantor. Apalagi di dalam institusi kepolisian.

Perang melawan narkoba memang berat. Tapi membersihkan rumah sendiri adalah langkah pertama. Tanpa itu, kepercayaan publik hanyalah slogan kosong.

Dan pagi itu, di halaman Mapolres Bone, tiga polisi telah menjadi pengingat—bahwa seragam bukan tameng, dan hukum tetap berjalan ke dalam. (*)