📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppJakarta, Katasulsel.com — Portimao itu bukan sirkuit ramah rookie.
Naik-turun tajam. Blind corner. Angin Atlantik yang suka berubah mood. Salah sedikit, gravel menyambut.
Tapi di situlah Veda Ega Pratama memilih membuat pernyataan.
Bukan dengan selebrasi.
Bukan dengan gimmick.
Tapi dengan stopwatch.
Di tes pramusim Moto3 2026, 9–10 Februari, pembalap muda Honda Team Asia itu tampil bukan sebagai anak baru yang sibuk mencari sensasi. Ia tampil seperti pembalap yang tahu apa yang sedang ia bangun.
Hari pertama, ia langsung menempel barisan depan dengan 2 menit 5,156 detik. Posisi enam. Untuk rookie, itu bukan angka biasa. Itu sinyal.
Hari kedua lebih serius lagi. Ia pangkas waktu drastis jadi 2 menit 2,545 detik. Lonjakan hampir tiga detik di trek seperti Algarve bukan sekadar peningkatan. Itu progres teknis.
Yang lebih menarik: ia tidak sekadar memburu satu flying lap.
Ia membangun ritme.
Di Moto3, satu lap cepat memang penting. Tapi musim panjang tidak dimenangkan dengan satu lap. Dimenangkan dengan konsistensi, manajemen ban, dan ketenangan saat tekanan datang.
Dan di situlah media Eropa mulai menoleh.
Motosan menyebut pendekatannya metodis. Itu bahasa halus untuk mengatakan: anak ini berpikir seperti pembalap senior.
Paddock-GP memuji ketenangannya. Di Portimao, ketenangan adalah mata uang mahal. Trek ini sering menjebak pembalap agresif. Banyak yang cepat, tapi sedikit yang sabar.
GPOne menyoroti stabilitasnya di atas Honda NSF250RW. Motor Moto3 terkenal sensitif di tikungan cepat. Sedikit goyang bisa berujung highside. Tapi Veda terlihat tidak panik. Itu bukan bakat. Itu kontrol.
Yang paling mencolok justru terjadi saat hujan turun.
Beberapa pembalap memilih menunggu. Veda tetap keluar. Ia menguji ban Pirelli dalam kondisi basah. Bukan untuk headline. Tapi untuk data.
Ini mentalitas yang jarang dimiliki rookie Asia di Eropa: berani ambil risiko terukur.
Veda memang bukan datang dari ruang kosong. Ia juara Asia Talent Cup 2023. Runner-up Red Bull Rookies Cup 2025. Dua sekolah keras yang membentuk pembalap agresif sekaligus disiplin.
Tapi Moto3 adalah dunia berbeda. Grid lebih padat. Slipstream lebih brutal. Kontak badan bukan hal langka. Rookie biasanya butuh setengah musim untuk adaptasi.
Portimao menunjukkan Veda mungkin tidak butuh waktu selama itu.
Yang membuatnya menarik bukan hanya kecepatannya. Tapi cara ia mencapainya. Ia tidak terlihat memaksa motor. Ia membaca karakter sirkuit. Ia memahami grip. Ia menghemat crash.
Dalam Moto3, crash adalah musuh utama rookie. Satu crash merusak kepercayaan diri. Dua crash merusak musim.
Selama tes, Veda minim kesalahan teknis. Itu artinya ia tidak sedang “overriding”. Ia mengontrol limit, bukan menabraknya.
Honda Team Asia jelas tidak mencari sensasi instan. Mereka membangun proyek jangka panjang. Tapi jika tes ini jadi indikator, proyek itu bisa lebih cepat matang dari perkiraan.
Apakah ia kandidat juara? Terlalu dini.
Apakah ia bisa podium? Sangat mungkin.
Apakah ia akan jadi kuda hitam musim 2026? Itu bukan lagi pertanyaan. Itu mulai jadi asumsi.
Moto3 sering kejam pada rookie. Tapi juga sering melahirkan kejutan.
Dan Veda Ega Pratama, di Portimao, tidak hanya mencatat waktu. Ia mengirim pesan: Indonesia tidak datang sebagai pelengkap grid.
Musim belum dimulai. Lampu start belum padam.
Tapi satu hal sudah jelas — paddock mulai menyebut namanya.
Pelan.
Tapi serius. (edybasri)






Tinggalkan Balasan