Edy Basri Pemred
Mengawal 'dapur redaksi' Katasulsel.com agar setiap berita bermakna
Artikel: 387 Lihat semua

JAKARTA — Nama Veda Ega Pratama pelan-pelan berubah. Dari sekadar pembalap muda berbakat, kini ia masuk “lingkaran elite”.

Bukan sembarang lingkaran. Ini Red Bull.

Talenta asal Gunungkidul itu resmi menjadi bagian dari Red Bull Blue and Silver, program prestisius yang selama ini dikenal sebagai pintu masuk menuju balap dunia—bahkan ke MotoGP.

Di titik ini, Veda bukan lagi sekadar harapan. Dia sudah jadi investasi.

Jalan Sunyi yang Jarang Disorot

Yang menarik bukan sekadar status barunya.

Tapi perjalanan panjang di belakangnya.

Veda bukan pembalap instan. Ia memulai dari minimoto sejak kecil, ditempa di jalur pembinaan, hingga akhirnya menjuarai Asia Talent Cup 2023—prestasi langka bagi rider Indonesia.

Lalu, ia masuk Red Bull Rookies Cup.
Bukan cuma numpang lewat.

Musim 2025, Veda finis runner-up dengan enam podium dan tiga kemenangan.

Itu bukan angka biasa.
Itu sinyal.

Red Bull Tak Pernah Salah Pilih

Masuk Red Bull bukan sekadar sponsor.

Ini semacam “talent pool” global.

Banyak rider MotoGP lahir dari sini. Artinya, ketika Veda diterima, ia dianggap punya satu hal penting: potensi kelas dunia.

“Mimpi saya dari kecil akhirnya terwujud,” kata Veda, singkat.

Kalimat sederhana.
Tapi di baliknya, ada proses bertahun-tahun.

Ada Detail Kecil yang Menarik

Yang jarang dibahas:
Veda tidak hanya cepat—dia konsisten.

Di Rookies Cup, ia bukan sekadar sekali menang lalu hilang. Ia terus muncul di depan, bahkan saat kondisi sulit.

Itulah yang membuat tim-tim besar mulai melirik.

Salah satunya datang dari Gresini Racing.
Mereka bahkan menyebut Veda sebagai pembalap “sangat kuat”.

Bahasa halus di dunia balap:
“Ini anak bisa naik kelas.”

Indonesia Sering Terlambat Sadar

Di luar negeri, Veda sudah diperhatikan.

Di dalam negeri?

Masih sebatas viral saat menang.

Padahal, ia sudah menembus jalur resmi menuju Moto3 2026 bersama Honda Team Asia.

Artinya:
tinggal satu-dua langkah lagi menuju MotoGP.

Bukan Lagi Tentang Veda

Cerita ini bukan cuma soal satu pembalap.

Ini soal ekosistem.

Red Bull sudah membuka pintu. Dunia sudah memberi panggung. Tinggal bagaimana Indonesia mengawal.

Karena jika tidak—

Veda akan tetap melaju.
Tapi mungkin sendirian.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.