📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppWajo, Katasulsel.com — Narasi bahwa Wajo hanya kuat di sejarah dan diaspora dagang kini mulai bergeser. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, Kabupaten Wajo mencatat PDRB per kapita sekitar Rp63 jutaan per tahun (2023).
Angka ini, menempatkan Wajo dalam jajaran kabupaten dengan rata-rata output ekonomi cukup solid di Sulawesi Selatan. Istilah populernya, mesin ekonomi Wajo lagi panas.
PDRB per kapita sering disebut sebagai indikator “kemakmuran rata-rata”.
Namun ekonom regional Sulsel, Ismail Kamaruddin, mengingatkan agar publik tak terjebak euforia angka.
“PDRB tinggi menunjukkan aktivitas ekonomi bergerak. Tapi yang lebih penting adalah distribusi dan daya beli riil masyarakat. Itu yang menentukan kesejahteraan terasa atau tidak,” ujarnya, di Makassar, Selasa, 16 Februari 2026.
Meski begitu, capaian Rp63 jutaan per kapita menandakan sektor-sektor produktif Wajo—terutama perdagangan, pertanian, dan UMKM—masih menjadi tulang punggung yang konsisten.
Aktivitas pasar rakyat tetap hidup, arus barang bergerak, dan jejaring perantau memberi efek domino pada ekonomi lokal.
Pada level rumah tangga, data BPS juga menunjukkan lebih dari separuh rumah tangga di Wajo memiliki emas minimal 10 gram. Ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan strategi investasi tradisional yang telah mengakar.
Pengamat sosial Ajatappareng, Andi Syamsuddin, menilai kultur tersebut menjadi bantalan ekonomi masyarakat. “Orang Wajo punya tradisi kuat menyimpan nilai dalam bentuk emas. Itu semacam tabungan darurat lintas generasi,” katanya.
Karakter ekonomi Wajo dikenal adaptif. Spirit dagang yang kuat menciptakan arus ekonomi dua arah—modal dari luar masuk, usaha lokal tetap tumbuh. UMKM berkembang, sektor pertanian menopang desa produktif, sementara perdagangan tetap menjadi nadi utama.
Namun pekerjaan rumah masih ada. Pemerataan pendapatan, hilirisasi hasil pertanian, serta penguatan industri kecil menjadi kunci agar pertumbuhan tak hanya terasa di statistik.
“Kalau mau naik kelas, Wajo harus memperkuat nilai tambah. Jangan cuma jual bahan mentah, tapi olahan dan brand,” tambahnya.
Dengan PDRB per kapita yang solid dan budaya investasi masyarakat yang kuat, Wajo sedang berada di momentum penting. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan angka, tetapi memastikan pertumbuhan itu inklusif dan berkelanjutan.
Data sudah memberi sinyal: ekonomi Wajo bergerak, tinggal bagaimana arah kebijakan mengawal lajunya agar makin kencang dan merata. (*)








Tinggalkan Balasan