Makassar, katasulsel.com – Malam itu terasa berbeda di Masjid Ikhtiar Perumahan Dosen (Perdos) Unhas, Kelurahan Tamalanrea Jaya. Bukan hanya suara azan yang menggema, tapi langkah-langkah Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyusuri halaman masjid, menyalami warga, dan menyerahkan paket pangan Ramadan secara simbolis.
Ada yang unik: penerima paket bukan sembarangan. Ada imam salat, muadzin, marbot, guru mengaji, petugas kebersihan, pengurus jenazah, bahkan petugas keamanan. Total sepuluh orang, tapi setiap paket seperti menyampaikan pesan terselubung: pemerintah melihat dan menghargai mereka yang sering luput dari sorotan.
Appi—sapaan akrab Wali Kota—tidak sekadar hadir. Ia menyelipkan pesan serius tapi dengan nada ringan ala “Disway style”: soal trotoar dan lapak liar. “Pedestrian ini dibangun dengan uang rakyat, untuk pejalan kaki. Kalau ada lapak di atasnya, hak orang lain diambil. Jangan salahkan saya kalau nanti ada yang tersandung,” ucapnya sambil tersenyum. Ada yang tertawa, ada yang mengangguk, tapi semua paham maksudnya.
Safari Ramadan kali ini bukan sekadar simbol. Setiap malam tarawih dan subuh, Appi bersama jajaran SKPD dan Forkopimda turun ke masyarakat. Menurutnya, masukan warga adalah energi untuk pemerintah berbuat lebih baik. “Makassar itu kompleks, tapi kalau kita bekerja bersama, masalah bisa diselesaikan,” ujarnya.
Rabu (27/2/2026) malam, suasana masjid semakin hangat saat hadir pula Rektor Unhas Jamaluddin Jompa, Ketua Takmir Masjid Prof. Altin Massinai, Kabag Kesra Muh Syarif, Camat Tamalanrea Andi Patiroi, dan Sekretaris Camat Nur Alam, beserta jajaran tokoh masyarakat, RW/RT, dan lurah. Safari Ramadan ini seolah menjadi “rapat umum mini” yang hangat: pejabat, akademisi, aparat keamanan, dan warga duduk bersama, bercampur dalam kebersamaan.
Appi menegaskan, pemerintah tidak melarang masyarakat mencari nafkah, tapi harus di tempat yang legal. Jika lapak liar di trotoar atau selokan tetap dipertahankan, bukan hanya merugikan pejalan kaki, tapi juga menciptakan masalah kebersihan dan estetika kota. “Kalau ada yang menyewakan lapak-lapak ini untuk ambil untung, kota jadi jorok. Itu harus kita hentikan bersama,” jelasnya.
Malam itu, Makassar melihat pemimpin yang turun ke lapangan, hadir di tengah rakyat, dan menyampaikan pesan tegas tapi bersahabat. Paket Ramadan, trotoar, lapak liar, semuanya menjadi bagian dari narasi kepemimpinan yang nyata. Tidak di ruang rapat, tapi di hati-hati masyarakat yang disentuh langsung oleh langkah Wali Kota Makassar.
Kalau ada yang bertanya, apa inti Safari Ramadan ini? Jawabnya sederhana: “Kepedulian, ketertiban, dan kebersamaan—langsung dari lapangan.” (*)



Tinggalkan Balasan