Jakarta, katasulsel.com — Siang itu, rumah sederhana di pinggir Jakarta ramai oleh pelayat. Wajah-wajah lelah bercampur dengan tangis yang tertahan.
Di sudut ruangan, seorang ibu memeluk erat anaknya. Di tengah duka itu, hadir sosok Camelia Panduwinata.
Ia datang tidak dengan banyak kata. Hanya senyum tipis, pelukan, dan doa. Affaz Kurniawan—ojek online yang meninggal dalam insiden demo 28 Agustus—baru saja dimakamkan.
Yang tersisa adalah keluarga yang harus kuat.
Camelia menatap mereka dengan penuh empati. “Semoga keluarga almarhum diberikan kekuatan dan ketabahan,” ucapnya pelan.
Kalimat sederhana. Tapi di saat seperti itu, kata-kata sederhana justru terasa paling dalam.
Baginya, kepergian Affaz bukan hanya kabar duka. Tapi juga pengingat: bahwa di balik sebuah peristiwa, ada nyawa, ada keluarga, ada kehidupan yang berubah selamanya.
“This should be a lesson,” katanya, “bahwa menyampaikan aspirasi harus tetap mengutamakan keselamatan.”
Yang menarik, Camelia tidak hanya datang membawa ucapan belasungkawa. Ia datang membawa energi tenang. Ia mengapresiasi ketabahan keluarga Affaz.
“Kita semua bisa belajar dari keberanian mereka,” tambahnya.
Di ruang duka itu, kesedihan memang tak bisa hilang. Tapi dukungan yang datang, sekecil apa pun, bisa memberi cahaya.
Dan Camelia Panduwinata memilih hadir—bukan sebagai figur publik, melainkan sebagai sesama manusia yang peduli. (Wahyu Widodo)
Tidak ada komentar