MAKASSAR, Katasulsel.com — Namanya sempat ramai dibicarakan. Bukan karena berhasil lolos menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara. Justru sebaliknya. Ia disebut dicoret di tengah proses seleksi calon Paskibraka tingkat nasional.

Siswi asal Makassar itu mendadak menjadi perhatian publik setelah kisahnya menyebar luas di media sosial. Banyak yang merasa iba. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan proses seleksi yang dianggap menyisakan tanda tanya.

Di tengah polemik yang belum benar-benar reda, kabar baru datang. Siswi tersebut kini mendapat beasiswa kuliah.

Perjalanan yang awalnya penuh kecewa perlahan berubah arah. Dari mimpi berdiri tegak di depan Istana Negara, kini ia justru mendapat peluang baru untuk melanjutkan pendidikan.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Polemik itu sebelumnya mencuat setelah beredar informasi bahwa siswi tersebut berada dalam jajaran calon kuat wakil Sulawesi Selatan untuk bertugas sebagai Paskibraka nasional. Bahkan namanya disebut masuk posisi unggulan dalam proses seleksi. Namun di detik-detik akhir, ia dinyatakan gagal melaju.

Isu yang berkembang kemudian makin liar. Ada yang mengaitkan dengan persoalan kemampuan bahasa daerah. Ada pula yang menilai proses seleksi kurang transparan. Perdebatan pun melebar di media sosial.

Di tengah situasi itu, perhatian publik justru mengalir deras kepada sang siswi. Banyak pihak menilai perjuangannya tidak boleh berhenti hanya karena gagal menuju Istana.

Kini, bantuan pendidikan datang sebagai bentuk dukungan moral sekaligus penghargaan atas perjuangannya selama mengikuti proses seleksi.

Kisah ini perlahan berubah menjadi cerita tentang bagaimana kegagalan kadang hanya pintu menuju jalan lain yang lebih panjang.

Tidak semua orang yang gagal di satu panggung kehilangan masa depan. Kadang justru dari kekecewaan terbesar, lahir kesempatan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Di Makassar, nama siswi itu mungkin sempat dikenal karena polemik pencoretan. Namun ke depan, bisa jadi ia dikenang karena keberhasilannya bangkit setelah kecewa.

Sebab hidup memang tidak selalu tentang siapa yang berdiri di depan Istana saat bendera dikibarkan.

Kadang yang lebih penting adalah siapa yang tetap mampu berdiri tegak setelah mimpinya sempat dijatuhkan. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita