Jakarta, Katasulsel.com — Veda Ega Pratama kembali menjadi perbincangan di kalangan pecinta Moto3. Bukan karena podium atau duel langsung di lintasan, melainkan karena munculnya spekulasi bahwa pembalap muda Indonesia itu bisa mendapat keuntungan apabila rivalnya, Hakim Danish, dijatuhi sanksi pasca-insiden dengan Mรกximo Quiles di Moto3 Italia 2026.
Kontroversi bermula setelah beredarnya potongan video yang memperlihatkan duel sengit antara pembalap Malaysia tersebut dengan Quiles di Sirkuit Mugello. Dalam rekaman yang ramai dibahas di media sosial, Danish dituding melakukan manuver yang dianggap berisiko dan memaksa Quiles mengambil langkah penyelamatan untuk menghindari kontak langsung. Hingga kini, insiden tersebut masih menjadi perhatian steward dan belum menghasilkan keputusan resmi.
Muncul pertanyaan menarik: jika Danish benar-benar mendapat penalti, apakah Veda Ega Pratama akan diuntungkan?
Secara matematis, peluang itu memang ada. Apabila hasil balapan Danish direvisi atau poinnya dikurangi, posisi sejumlah pembalap di belakangnya berpotensi mengalami perubahan. Namun dalam dunia balap, keuntungan di atas kertas tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan nyata di klasemen.
Bagi Veda, fokus utama tetap bukan pada keputusan ruang sidang steward, melainkan performa di lintasan. Pembalap Honda Team Asia itu justru mendapat banyak apresiasi karena mampu menjaga konsistensi di tengah ketatnya persaingan Moto3 musim 2026. Di Mugello, meski belum mampu menembus podium, Veda kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu rookie terbaik musim ini.
Persaingan Veda dan Danish sendiri sudah berlangsung sejak level junior. Dalam beberapa seri terakhir, keduanya beberapa kali terlibat duel ketat yang membuat rivalitas Indonesia-Malaysia semakin menarik untuk disaksikan. Bahkan sebelum Moto3 Italia berlangsung, duel keduanya sudah menjadi sorotan pengamat balap Asia Tenggara.
Namun jika melihat tren musim ini, Veda tampaknya tidak membutuhkan “hadiah” dari sanksi lawan untuk tetap bersaing di papan atas. Pembalap asal Gunungkidul itu berulang kali membuktikan mampu merangsek dari posisi belakang dan mengamankan poin penting bagi Honda Team Asia. Kemampuan menjaga ritme balapan sering kali menjadi senjata yang lebih berharga dibanding keuntungan akibat penalti rival.
Kini semua pihak tinggal menunggu keputusan resmi dari steward terkait insiden Danish dan Quiles. Sampai keputusan itu keluar, segala spekulasi mengenai perubahan klasemen masih bersifat dugaan.
Satu hal yang pasti, peluang terbesar Veda Ega Pratama untuk terus naik di klasemen Moto3 2026 tetap berasal dari keberaniannya membuka gas saat lampu start padam, bukan dari ruang sidang pengadil balap. (*)
