Sidrap, katasulsel.com — Di banyak kampus, tenaga kependidikan kerap menjadi elemen yang paling sibuk, tetapi paling jarang dibicarakan secara serius. Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) memilih jalur berbeda. Senin (26/1/2025), kampus ini justru menjadikan peningkatan kapasitas tendik sebagai agenda utama, bukan pelengkap.
Melalui Biro Sumber Daya Manusia, UMS Rappang menggelar kegiatan Pengembangan Sumber Daya Manusia sekaligus Sosialisasi Job Description bagi seluruh tenaga kependidikan. Kegiatan ini berlangsung di lantai 3 Gedung Rektorat dan dibuka langsung oleh Rektor UMS Rappang, Prof. Dr. H. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si.
Hadirnya jajaran pimpinan lengkap—mulai dari Wakil Rektor II dan IV, Kepala Badan Pembina Harian (BPH), hingga Sekretaris BPH—menjadi penanda bahwa kegiatan ini tidak dimaknai sebagai rutinitas administratif semata. Ada pesan kelembagaan yang ingin ditegaskan: sistem kampus hanya akan kuat jika orang-orang di balik layanan bekerja dengan arah yang jelas.
Kegiatan ini diikuti seluruh tenaga kependidikan dari berbagai unit—program studi, fakultas, badan, lembaga, hingga biro. Menariknya, pelaksanaan dibagi dalam dua gelombang selama dua hari. Bukan tanpa alasan. Layanan administrasi tetap harus berjalan. Di sinilah manajemen diuji: meningkatkan kapasitas tanpa mengorbankan pelayanan.
Dalam sambutannya, Prof. Jamaluddin Ahmad tidak langsung bicara soal target atau indikator kinerja. Ia justru mengajak peserta kembali ke nilai dasar persyarikatan Muhammadiyah. Mars Sang Surya disebut, bukan sebagai lagu seremonial, melainkan sebagai pengingat etos kerja: disiplin, tanggung jawab, dan pengabdian.
Ia kemudian masuk ke wilayah yang jarang disentuh dalam forum tendik: prinsip administrasi. Empat belas prinsip Henry Fayol diulas sebagai fondasi berpikir, agar kerja administrasi tidak sekadar rutin, tetapi terukur dan profesional.
“Administrasi bukan soal sibuk, tetapi soal tertata,” kurang lebih begitu pesan yang ingin ditegaskan.
Materi yang disiapkan juga menunjukkan keseriusan. Setidaknya ada delapan topik utama. Sesi pembuka diisi Kepala Biro Sistem Informasi UMS Rappang, Zulkarnain Ahmad, bersama Sekretaris BPH Kamaruddin Sellang. Fokusnya satu: kejelasan job description dan layanan informasi. Dua hal yang kerap menjadi sumber tumpang tindih kerja jika tidak diurai sejak awal.
Sekretaris BPH, Kamaruddin Sellang, menyampaikan harapan yang sederhana namun fundamental. Ketika setiap tendik memahami perannya, kerja akan lebih fokus. Ketika kerja fokus, target institusi bukan lagi sekadar slogan di dinding.
Di titik ini, kegiatan UMS Rappang menjadi menarik untuk dicermati. Banyak kampus berlomba bicara akreditasi dan pemeringkatan global, tetapi lupa membenahi fondasi internalnya. UMS Rappang justru memulai dari hal yang kerap dianggap remeh: siapa mengerjakan apa, dan mengapa itu penting.
Mungkin di situlah pesan terbesarnya. Kampus yang ingin tumbuh tidak cukup hanya dengan visi besar, tetapi juga dengan administrasi yang rapi, manusia yang paham tugasnya, dan nilai yang benar-benar dihidupi, bukan sekadar diucapkan. (*)






Tinggalkan Balasan