Katasulsel.com — Jarak sering kali dianggap perkara teknis.
Di peta, mungkin ia hanya garis.
Di Google Maps juga begitu, ia hanyalah angka kilometer.

Namun bagi sebagian orang, jarak adalah soal kesungguhan.

Di Pitu Riase, jarak itu 50 hingga 60 kilometer.
Jarak antara Pangkajene dan Pitu Riase.
Setiap hari ditempuh.
Pulang–pergi.

Bukan sekali dua kali.
Bukan seminggu dua minggu.
Melainkan hari demi hari.

Begitulah keseharian Kapolsek Pitu Riase selama ini.
Datang pagi.
Pulang malam.
Esoknya diulang lagi.

Tidak ada keluhan yang diucapkan.
Tidak pula ada cerita yang dibesar-besarkan.

Karena bagi seorang perwira di lapangan, tugas memang tak selalu ramah jarak.

Namun jarak, lama-lama, mengajarkan satu hal penting:
bahwa kehadiran tidak boleh bergantung pada kebetulan.

Ia harus dipastikan.

Dan dari sanalah cerita tentang asrama Polsek Pitu Riase bermula.

Enam Belas Tahun Menunggu

Polsek Pitu Riase bukan kantor baru.
Ia telah berdiri sekitar 16 tahun.

Dalam rentang waktu itu, banyak cerita berlalu.
Banyak personel datang dan pergi.
Banyak kasus ditangani.
Banyak warga dilayani.

Namun ada satu hal yang tak kunjung hadir:
asrama.

Selama ini, dari 17 personel Polsek Pitu Riase, sebagian terpaksa tinggal di mess milik PT Buls (Perusahaan plat merah disana, red).
Sebagian lainnya menumpang di rumah warga.
Ada yang menyewa.
Ada pula yang pulang–pergi jauh.

Situasi itu berjalan bertahun-tahun.
Dianggap biasa.
Dijalani apa adanya.

Hingga suatu hari, seorang Kapolsek datang dengan satu pikiran sederhana:
bagaimana jika jarak itu dipendekkan?

Namanya IPDA Sakaria, S.E., M.M.

Sejak awal menjabat sebagai Kapolsek Pitu Riase, ia menyimpan satu niat:
anggota harus tinggal dekat dengan wilayah tugasnya.
Bukan untuk gaya.
Bukan untuk kenyamanan semata.

Melainkan untuk kesiapsiagaan.

Polisi, baginya, harus mudah ditemukan.
Cepat merespons.
Dan benar-benar hadir.

Dari Niat ke Gerak

Niat, jika dibiarkan, hanya akan tinggal niat.
Ia perlu digerakkan.

Maka dimulailah percakapan-percakapan kecil.
Tidak formal.
Tidak kaku.

Tentang kemungkinan membangun asrama.
Tentang kebutuhan anggota.
Tentang jarak yang selama ini ditempuh.

Percakapan itu rupanya menemukan gaung.

Masyarakat mendengar.
Masyarakat merespons.

Tidak dengan janji besar.
Tidak pula dengan seremoni panjang.

Melainkan dengan satu kata yang sudah lama hidup di Pitu Riase:
gotong royong.

Pembangunan asrama dimulai akhir 2025.
Tanpa gegap gempita.
Tanpa spanduk besar.

Hari-hari pertama diisi suara palu.
Hari-hari berikutnya diwarnai adukan semen.
Pelan tapi pasti.

Dari Maritengngae, Watang Pulu, hingga Rappang hingga Pitu Riase, warga datang bergantian.
Ada yang menyumbang tenaga.
Ada yang membantu bahan.
Ada pula yang sekadar hadir, memastikan pekerjaan berjalan.

Dalam waktu sekitar tiga bulan, bangunan itu berdiri.
Tidak mewah.
Tidak berlebihan.

Namun cukup.
Dan lebih dari cukup.

Hari Peresmian

30 Januari 2026.

Sore itu, sekira pukul 15.10 WITA, halaman Polsek Pitu Riase tampak berbeda.
Balon hitam dan kuning, warna khas Polri, menghiasi sudut-sudutnya.

Tidak banyak dekorasi.
Tidak pula panggung besar.

Namun suasananya terasa hangat.

Asrama itu diresmikan langsung oleh Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H.
Ia hadir didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Sidrap, Ny. Dian Fantry.

Turut bersama mereka, AKBP (Purn) H. Sultan Taherong.
Ayah kandung Kapolres.
Sosok yang bagi banyak orang di Sidrap, dikenal bukan sekadar orang tua, tetapi motivator—bagi anaknya, dan bagi banyak personel di Polres Sidrap serta jajaran.

Hadir pula Wakapolres, para pejabat utama (PJU) Polres Sidrap, camat, lurah, para kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda. Salah satunya H. Ahmad Shalihin Halim  (Owner Pemandian Alam Puncak Bila, red)
Lengkap.
Namun tetap sederhana.

Tidak ada jarak antara tamu dan tuan rumah.
Semua bercampur.
Semua menyatu.

Kapolsek dan Cerita Kesiapsiagaan

Dalam sambutannya, IPDA Sakaria berbicara dengan nada tenang.
Tanpa retorika berlebihan.

Ia menyampaikan bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Pitu Riase berada dalam kondisi aman dan terkendali.

Ia menyebut peran semua pihak.
Masyarakat.
Tokoh-tokoh lokal.
Perangkat wilayah.

Bagi Sakaria, keamanan bukan hasil kerja satu institusi.
Ia adalah hasil kebersamaan.

Ia juga menyinggung soal kesiapsiagaan.
Bahwa asrama ini bukan sekadar tempat tinggal.
Melainkan cara untuk memperpendek waktu respons.

Ketika jarak tinggal beberapa langkah, bukan lagi puluhan kilometer,
maka pelayanan bisa datang lebih cepat.

Ia mengingatkan bahwa selama ini, bahkan dirinya harus bolak-balik Pangkajene–Pitu Riase setiap hari, menempuh jarak 50–60 kilometer.
Bukan keluhan.
Hanya fakta.

Dan kini, fakta itu berubah.

Sambutan yang Membumi

Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H membuka sambutannya dengan cerita ringan.

Ia bercerita tentang perjalanan hidup.
Tentang tempat-tempat yang pernah ditempati berdinas.
Jakarta.
Palembang.

“Ke mana pun saya pindah, selalu ada satu tempat yang teringat,” katanya.
“Pitu Riase.”

Ia tersenyum.

“Karena di sini banyak kelapa,” lanjutnya.
“Saya suka sekali minum air kelapa.”

Tawa pun pecah.
Suasana mencair.

Ia lalu berkelakar bahwa asrama itu bukan hanya untuk Kapolsek.
“Siapa pun boleh mampir. Ngopi di Asrama Kapolsek,” ujarnya.

Namun di balik canda, pesannya jelas.

“Asrama ini bukan sekadar bangunan,” katanya kemudian.
“Ini tanda bahwa Polri dan masyarakat berjalan bersama.”

Ia menyebut asrama sebagai elemen penting.
Bukan karena bentuk fisiknya.
Melainkan karena fungsinya bagi kesiapan personel.

Kapolres juga menyampaikan kedekatan personalnya dengan IPDA Sakaria.
Bahwa Kapolsek Pitu Riase itu pernah menjadi anak buah langsungnya saat ia bertugas sebagai Kasat Intelkam, juga di Polres Sidrap.

“Saya tahu, suatu saat Pak Sakaria akan jadi perwira,” ucapnya singkat.
Nada suaranya datar.
Namun maknanya dalam.

Sosok di Balik Layar

Di sisi Kapolres, AKBP (Purn) H. Sultan Taherong tampak lebih banyak diam.
Namun kehadirannya terasa.

Bagi banyak personel, ia bukan sekadar ayah kandung dari Kapolres.
Ia adalah figur yang kerap memberi semangat.
Memberi nasihat.
Memberi teladan.

Tidak dengan pidato panjang.
Melainkan dengan sikap.

Dan di Pitu Riase, kehadiran sosok seperti itu memberi makna tambahan.
Bahwa pengabdian tidak berhenti pada satu generasi.

Asrama dan Rasa Memiliki

Asrama Polsek Pitu Riase kini berdiri.
Ia mungkin tidak akan masuk buku arsitektur.
Tidak pula menjadi bangunan ikonik.

Ukurannya tergolong kecil, hanya 7 meter kali 8 meter. Di dalam hanya ada 2 kamarm ruang tamu dan sedkit untuk dapur dan kamar mandi (WC).

Namun ia menyimpan cerita.
Tentang jarak yang dipendekkan.
Tentang niat yang diwujudkan.
Tentang masyarakat yang memilih terlibat.

Di dalam dindingnya, ada harapan.
Bahwa polisi akan lebih dekat.
Lebih cepat.
Lebih hadir.

Dan bagi Pitu Riase, itulah yang terpenting.

Karena pada akhirnya, keamanan bukan soal seberapa besar bangunan.
Melainkan seberapa dekat hubungan.

Dan asrama ini telah menjawabnya—
dengan cara yang sederhana,
dan dengan hati yang lapang. (*)