Sidrap, Katasulsel.com — Angka kadang tidak berisik. Tapi ia jujur. Dan Sidrap sedang berbicara lewat angka.

Produksi gabah di Kabupaten Sidenreng Rappang melonjak. Bukan sedikit. Tambahan 125 ribu ton dalam satu periode tanam.

Dari sekitar 440 ribu ton menjadi lebih dari setengah juta ton. Lonjakan yang tidak bisa disebut kebetulan.

Ini bukan sekadar berita panen. Ini soal arah.

Sidrap kembali menegaskan identitas lamanya: lumbung pangan. Sawah-sawah yang selama ini sunyi, kini kembali punya suara—dan suaranya keras.

Di tengah kekhawatiran impor, fluktuasi harga beras, dan cuaca yang makin tak ramah, Sidrap justru menunjukkan hal sebaliknya: produksi naik, optimisme tumbuh.

Pemerintah daerah tak ingin pencapaian ini dibaca sebagai keberuntungan musiman.

Keterlibatan langsung kepala daerah dalam panen perdana menjadi penanda: pertanian tidak lagi diletakkan di pinggir meja kebijakan. Ia duduk di tengah.

Modernisasi alat panen, pendampingan petani, dan dorongan percepatan masa tanam mulai menunjukkan hasil. Combine harvester menggantikan sabit. Waktu panen dipangkas. Kehilangan hasil ditekan. Efisiensi menjadi kata kunci baru di sawah.

Namun, katasulsel.com selalu percaya: angka besar harus diuji dengan pertanyaan besar.

Apakah lonjakan produksi ini juga berarti kesejahteraan petani meningkat? Apakah harga gabah tetap adil saat panen raya? Apakah surplus benar-benar terserap, bukan justru menekan nilai jual di tingkat bawah?

Swasembada pangan bukan hanya soal cukup beras. Ia juga soal adil. Jika produksi naik tetapi petani tetap terhimpit biaya pupuk dan harga jual rendah, maka yang swasembada hanyalah statistik.
Meski begitu, Sidrap patut dicatat.

Di saat banyak daerah masih berkutat dengan problem klasik pertanian, Sidrap melaju. Bahkan berani menargetkan produksi mendekati satu juta ton ke depan.

Ambisius? Ya. Tapi tanpa ambisi, sawah hanya akan jadi cerita lama.

Sidrap hari ini memberi pesan sederhana: swasembada pangan tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari sawah yang dikelola serius.

Dari kebijakan yang turun ke lumpur, bukan hanya naik ke podium.

Dan untuk sementara, gabah Sidrap sedang memberi harapan.(*)