Makassar, katasulsel.com — Politik tidak pernah berjalan lurus. Ia berputar, mencari titik pijak. Dan bagi Partai Golkar Sulawesi Selatan, titik pijak itu kini dibaca ulang dari Makassar, lalu ditarik ke Takalar, Pinrang, dan Soppeng.

Inilah garis besar yang terlihat dari langkah Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhiddin M. Said. Bukan sekadar roadshow. Tapi upaya menata ulang pusat dan pinggiran kekuatan partai.
Makassar diposisikan sebagai poros kendali. Mesin utama. Etalase kekuatan politik.

Sementara Takalar, Pinrang, dan Soppeng dibaca sebagai ladang elektoral yang harus digarap lebih serius—bukan sekadar dijaga, tapi dimaksimalkan.

Makassar: Mesin Utama Tak Boleh Mati

Di Golkar Sulsel, Makassar bukan daerah biasa. Ia lumbung suara. Gudang kader. Pusat pengaruh. Jika Makassar goyah, daerah ikut oleng.

Karena itu, konsolidasi yang dilakukan Golkar Sulsel tidak pernah benar-benar menjauh dari Makassar. Struktur kota ini dijaga tetap solid, karena dari sinilah logistik politik, narasi, dan strategi disebar ke kabupaten lain.

Makassar adalah komando.
Takalar, Pinrang, dan Soppeng adalah medan tempur.

Takalar: Daerah Penyangga yang Tak Boleh Bocor

Langkah konsolidasi dimulai dari Takalar bukan tanpa alasan. Kabupaten ini adalah daerah penyangga Makassar—secara geografis dekat, secara politik menentukan.

Takalar kerap dianggap “ikut arus Makassar”. Tapi Golkar membaca ini sebagai potensi, bukan kelemahan. Jika Takalar bisa dikunci, maka aliran suara dari selatan Makassar bisa diarahkan lebih disiplin.

Di sinilah pesan Muhiddin terdengar jelas:
struktur harus rapi, kader harus bergerak, dan suara akar rumput tak boleh dibiarkan liar.

Pinrang: Basis Lama yang Harus Dihidupkan Kembali

Berbeda dengan Takalar, Pinrang adalah cerita lama Golkar. Basis tradisional. Wilayah yang pernah kuat, tapi perlahan melemah karena konflik internal dan kurangnya konsolidasi.

Golkar Sulsel tak datang ke Pinrang untuk nostalgia. Tapi untuk menghidupkan ulang ingatan politik pemilih. Bahwa Golkar pernah kuat di sini—dan ingin kembali.
Pinrang dibaca sebagai daerah yang tak perlu diajari dari nol. Yang dibutuhkan hanyalah menyatukan kembali kepingan struktur yang sempat tercerai.
Soppeng: Politik Rasional dan Disiplin Suara

Jika Pinrang soal emosi politik masa lalu, maka Soppeng adalah soal rasionalitas. Pemilihnya dikenal lebih tenang, terukur, dan disiplin.

Karena itu, Golkar tak menjual jargon di Soppeng. Yang ditawarkan adalah kerja organisasi: struktur hidup, kader aktif, dan pesan politik yang konsisten.

Soppeng bukan daerah gaduh. Tapi justru karena itu, kesalahan kecil bisa berdampak besar.

Konsolidasi atau Penataan Ulang Kekuatan?

Empat wilayah ini membentuk satu garis lurus:

Makassar sebagai pusat,
Takalar sebagai penyangga,
Pinrang sebagai basis historis,
Soppeng sebagai wilayah rasional.
Golkar Sulsel tampaknya tak sedang mengejar sensasi politik.

Mereka sedang membaca ulang peta, menata ulang jalur distribusi suara, dan menguji apakah mesin partai masih layak dipacu menuju Pemilu mendatang.

Pertanyaannya tinggal satu:
apakah konsolidasi ini akan berhenti sebagai agenda seremonial,
atau benar-benar menjadi mesin elektoral yang bekerja sampai ke TPS paling sunyi?

Jawabannya—seperti biasa—baru akan terbuka saat suara dihitung, bukan saat pidato ditepuk tangan. (*)