📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Pinrang, Katasulsel.com — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi etalase perhatian negara pada generasi muda, mendadak menyisakan cerita kurang sedap di Desa Sabbang Paru, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang.

Delapan santri Pesantren Al-Mustafa Kanipang harus dilarikan ke Puskesmas Tuppu. Pusing. Mual. Tubuh melemah. Dugaan awal mengarah pada satu hal yang sama: makanan.

Peristiwa itu terungkap Kamis pagi, 29 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 WITA. Gejala muncul beberapa jam setelah para santri menyantap menu MBG pada Rabu siang, 28 Januari 2026. 

Waktunya sekitar pukul 11.00 WITA. Menunya terdengar biasa saja—nasi putih, ayam kuah kuning, tempe goreng kecap, pisang, timun, dan tomat. Namun dari dapur, aroma masalah rupanya ikut tersaji.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lauk ayam kuah kuning diduga belum matang sempurna. Lebih dari itu, baunya sudah tak bersahabat. Kombinasi yang cukup untuk membuat perut remaja-remaja pesantren bereaksi.

Kepala Puskesmas Tuppu, dr. Syamsul Hanar, membenarkan adanya delapan pasien dengan dugaan keracunan makanan usai mengonsumsi MBG. Mereka sempat menjalani perawatan medis sebelum akhirnya dipulangkan.

“Pasien sudah kembali ke rumah masing-masing. Untuk informasi lanjutan, sesuai arahan pimpinan, penanganan dan keterangan resmi terkait kasus MBG ini satu pintu di Dinas Kesehatan Pinrang agar tidak terjadi bias informasi,” ujarnya singkat namun tegas.

Di sisi lain, pimpinan Pondok Pesantren Al-Mustafa Kanipang, H. Mustapa Tangali, memastikan kondisi para santri kini telah pulih. Setelah menjalani perawatan selama kurang lebih 24 jam, seluruh santri kembali beraktivitas normal.

“Alhamdulillah, mereka sudah kembali ke asrama dan masuk sekolah. Jumat kemarin semua sudah bergabung lagi,” ujar Ustadz Mustapa saat dihubungi, Sabtu (31/1/2026).

Menariknya, hasil koordinasi internal pesantren dengan tim kesehatan memunculkan temuan yang agak berbeda. Bukan pada bahan baku makanan, kata Ustadz Mustapa, persoalannya justru ada pada dapur.

“Masalahnya di sirkulasi udara. Dapur pengolahan makanan pengap, tidak memiliki alur udara yang baik. Akibatnya, makanan yang sudah jadi cepat basi,” ungkapnya.

Satu simpul belum terurai. Kepala SPPG Binanga Karaeng dan pihak pengelola dapur MBG hingga berita ini diturunkan belum memberikan keterangan resmi. Konfirmasi lanjutan masih dilakukan.

Di Pinrang, delapan santri sudah sehat kembali. 

Namun aroma ayam kuah kuning itu masih menyisakan pertanyaan: seberapa siap dapur-dapur MBG menjaga mutu, bukan sekadar menu?