📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Jakarta – Kalau dulu berita korupsi datang dari surat kabar dan rapat dewan, kini cukup satu laporan Aliansi Masyarakat Peduli Hukum (Ampuh) Sultra ke Kejaksaan Agung, dan 23 proyek jalan di Konawe Utara langsung berubah jadi bahan debat nasional.

Ampuh Sultra menduga, 23 paket proyek peningkatan jalan tahun anggaran 2024 yang dikerjakan Dinas PUPR Konawe Utara sarat masalah. Total kerugian negara disebut mencapai Rp2,6 miliar. Tidak sedikit, tapi cukup untuk bikin warganet berbisik: “Duh, jalan di Konut kok mirip labirin korupsi.”

Yang paling lucu: laporan ini bukan datang dari pihak internal, melainkan dari masyarakat yang “peduli hukum”. Bayangkan, masyarakat sipil harus jadi detektif anggaran karena proyek jalan—yang seharusnya memudahkan rakyat—malah jadi teka-teki misteri.

Direktur Ampuh Sultra, Hendro Nilopo, atau Egis bagi yang akrab, menegaskan data awal sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung. Ia menambahkan, kalau Kejagung tidak bertindak dalam satu pekan, mereka siap turun lagi, kali ini dengan massa lebih banyak. Sepertinya, rakyat sipil kini memegang agenda penegakan hukum. Bukan jaksa, bukan pengawas, tapi mereka yang berseragam kesadaran publik.

Di sisi lain, proyek jalan itu sendiri seperti seni abstrak: ada di dokumen, ada di anggaran, tapi di lapangan kadang tak terlihat. Jalan di Konawe Utara kini bukan sekadar jalur transportasi, tapi simbol kreativitas alokasi anggaran—kadang nyata, kadang ilusi.

Yang menarik, Kejaksaan Agung dan Dinas PUPR Konawe Utara masih bungkam. Diamnya mereka malah menambah drama. Warganet pun makin kreatif: foto jalan rusak + tagar #KonaweMaze langsung viral. Bukti nyata atau tidak, yang penting sensasi.

Dari kasus ini, ada satu pelajaran satir yang pahit: di era digital, bukan cuma gosip selebritas yang bisa viral. Korupsi juga bisa jadi tontonan rakyat, lengkap dengan plot twist dan cliffhanger. Bedanya, kalau selebritas bisa klarifikasi, proyek jalan yang hilang atau bermasalah hanya bisa jadi meme di grup WhatsApp, sampai aparat turun tangan—atau tidak.

Akhir kata: di Konawe Utara, jalan raya mungkin menunggu konstruksi selesai, tapi rakyat sudah duluan berjalan-jalan di lorong-lorong birokrasi yang rumit dan… lucu. (*)