📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppMakassar, katasulsel.com — Tak Ada Naturalisasi, Tapi Justru di Klub Besar
Ada yang janggal di Super League musim ini.
PSM Makassar — nol pemain naturalisasi.
Persib Bandung — justru paling banyak.
Persija Jakarta dan Bali United — ikut di barisan atas.
Aneh? Sekilas iya. Tapi justru di situlah ceritanya.
Data menunjukkan PSM Makassar menjadi satu-satunya klub papan atas yang benar-benar tampil tanpa nama naturalisasi dalam daftar skuad. Tidak ada label diaspora. Tidak ada paspor ganda. Tidak ada embel-embel “heritage”.
Murni lokal dan asing konvensional.
Sementara Persib Bandung memimpin daftar klub dengan pemain naturalisasi terbanyak. Persija menyusul. Bali United tetap konsisten dengan pendekatan globalnya.
Kontrasnya tajam.
Yang menarik: ini bukan soal kuat atau lemah. Ini soal cara memandang identitas.
PSM memilih jalur lama. Mengandalkan pemain lokal dan asing non-naturalisasi. Tidak ikut arus besar naturalisasi yang kini jadi tren nasional, seiring Timnas Indonesia makin dipenuhi pemain diaspora Eropa.
Sebaliknya, Persib, Persija, dan Bali United tampak lebih adaptif. Mereka membaca regulasi. Memanfaatkan status paspor. Mengubah pemain berdarah asing menjadi “lokal administratif”.
Hasilnya? Kuota asing aman. Kedalaman skuad bertambah.
Tapi di PSM, ceritanya berbeda.
Klub tertua di Indonesia itu seolah ingin berkata: kami tidak alergi pemain luar, tapi tidak tergesa mengejar label. Sejarah sudah cukup bicara. Dulu ada Wiljan Pluim. Dulu ada pemain Eropa yang jadi ikon. Kini, jalurnya dipersempit.
Bukan karena tak mampu. Tapi karena memilih.
Di sinilah sisi uniknya:
Di saat naturalisasi dianggap jalan pintas menuju prestasi, PSM justru berdiri di luar keramaian.
Apakah ini romantisme?
Atau strategi sunyi?
Waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, Super League musim ini tidak sekadar soal skor dan klasemen. Ia juga soal identitas. Tentang bagaimana klub memaknai “Indonesia” di lapangan hijau.
Dan ironinya:
Justru klub yang tak punya naturalisasi, paling kuat memancing perbincangan. (edybasri)






Tinggalkan Balasan