📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Jakarta, Katasulsel.com – Pertemuan antara Rachmat Gobel, anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, dengan Syaharuddin Alrif (Syahar), Bupati Sidrap sekaligus Ketua DPW NasDem Sulawesi Selatan, Kamis (5/2/2026) di Senayan, menegaskan arah baru dalam politik pembangunan Indonesia Timur. Fokusnya: kerja sama pangan yang konkret antara dua provinsi.

Gobel membuka pertemuan dengan data yang jelas. Sulawesi Selatan memiliki surplus beras dan telur ayam, sementara Gorontalo unggul dalam produksi jagung dan gula aren. “Ini kesempatan untuk bersinergi dan saling melengkapi. Politik yang hanya bicara kursi dan kekuasaan tidak akan menyelesaikan masalah rakyat,” tegas Gobel.

Sinergi pangan ini berbentuk konkret: Sidrap siap menyalurkan beras dan telur ayam ke Gorontalo, sementara Gorontalo memasok jagung dan gula aren ke Sidrap. Strategi ini tidak sekadar mengatasi kekurangan pangan lokal, tetapi juga stabilisasi harga, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Syaharuddin menekankan urgensi langkah tersebut. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah dan tekanan ekonomi global, kolaborasi antardaerah menjadi mutlak. “Siapa yang menolong diri kita selain diri sendiri? Sinergi ini adalah jawaban bagi rakyat di kedua provinsi,” ujarnya.

Secara politik, pertemuan ini juga menunjukkan NasDem menekankan politik pembangunan dan kesejahteraan, bukan intrik kekuasaan. Gobel menegaskan, politik yang efektif adalah yang menghasilkan karya nyata. Ia mencontohkan model Gorontalo-Sukabumi, di mana kacang kedelai Gorontalo diolah menjadi tempe di Sukabumi, sebagai contoh konkret bagaimana sinergi antardaerah memberi manfaat ekonomi nyata.

Analisisnya: kerja sama Sulsel-Gorontalo memperkuat posisi politik kedua tokoh. Gobel mengokohkan basis NasDem di Gorontalo dan Sulsel, sementara Syahar menegaskan kapasitasnya sebagai pemimpin daerah yang fokus pada kesejahteraan rakyat. Kerja sama ini bukan sekadar simbol, tapi proyek ekonomi-politik nyata yang bisa menjadi model Timur-Timur bagi Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir, Gobel menekankan konsistensi fokusnya pada sektor pangan, pertanian, kelautan, perkebunan, dan UMKM. Langkah konkret ini menunjukkan bahwa politik yang bermanfaat bukan hanya soal janji, tetapi menghasilkan dampak langsung bagi masyarakat.

Dengan kata lain, pertemuan ini menandai politik strategis yang produktif, di mana surplus pangan Sulsel dan Gorontalo bukan hanya angka, tetapi alat untuk membangun kesejahteraan, menguatkan ekonomi rakyat, dan menegaskan legitimasi politik. (*)